Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bekal Menginap Saat Bekerja di Luar Rumah

[Artikel 10#, kategori Dibalik Layar] Kamu tahu hal pertama yang saya khawatirkan ketika membawa pekerjaan keluar kamar adalah makanan? Bila beberapa tempat yang saya datangi bisa diakali dengan beli cemilan, kali ini saya membawa bekal, seperti sedang piknik.

Aktivitas hari ini dilakukan di hotel bintang 4, The Wujil Resort & Conventions. Kebenaran saya menginap tanggal 23 Agustus kemarin. Baca cerita saya sebelumnya tentang perjalanan ke hotel yang berada di Ungaran ini di sini.

Memang terdengar aneh atau menggelikan jika bekal makanan yang saya bawa hanya nasi dan keju. Padahal di hotel adalah gudangnya makanan.

Dini hari

Alasan saya membawa bekal adalah pekerjaan saya yang dilakukan dini hari. Saya bangun pukul setengah 2 pagi. Tentu tidak akan ada makanan di hotel. Apalagi saya tidak berencana membeli untuk kemudian di makan pas saya bangun.

Alasan kedua adalah saya membutuhkan kopi. Tapi, karena saya punya maag yang tidak dapat dikompromi, saya tidak boleh langsung meminumnya. Butuh asupan karbo sebelum menikmatinya.

Kopi adalah bagian penting saat konsentrasi hilang atau butuh detail pikiran yang tidak tenang saat mengeluarkan ide. 

Alasan terakhir adalah tentu untuk menghemat. Pandemi bukan saja merontokkan aktivitas penghasil pundi, tapi juga memaksa menghemat isi dompet. 

Saat dompet terus mengering, bahkan akhirnya saya berhutang juga, saya tidak ingin kemewahan yang didapatkan dengan menginap di hotel, membuat saya tersiksa.

Pihak hotel hanya menyiapkan kamar dan fasilitas penunjang yang dibarter dengan tulisan di blog dotsemarang. Menuju ke hotel harus mengeluarkan biaya sendiri. Meski itu tidak seberapa, kembali lagi berpikir bahwa saya sedang kesulitan keuangan. 

Kehilangan dua ribu rupiah pun rasanya sangat berharga. Karena dengan 2 ribu tersebut, saya bisa bersepeda. Soalnya pompa ban memerlukan uang segitu.

...

Apakah ini termasuk seru buatmu? Atau malah lucu, seolah saya adalah anak baik yang menuruti ibunya. Membawa bekal di umur segini, mau tidak mau rasanya.

Menulis ketika semua terlelap adalah rutinitas yang harus dilakukan. Dan itu butuh kemampuan pendukung untuk membuatnya tetap bertahan (mengantuk).

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini