Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Menjadi Ayah

[Artikel 40#, kategori rumah] Pria yang dulu terus berjuang menjadi manusia baik akhirnya bulan ini resmi menyandang berstatus sebagai Ayah. Kebahagiaannya yang tak dapat disembunyikan, ia bagikan ke grup WhatsApp. Dalam batin saya mengucapkan, Selamat ya! Akhirnya kamu jadi pria seutuhnya sekarang.

Menjadi anak terakhir yang akhirnya melepas masa lajang, padahal anak pertama, kebahagiannya sebagai pria sejati semakin lengkap dengan kedatangan buah hati. Apalagi bayi laki-laki.

Saya mencoba mencari artikel tentang rasanya menjadi ayah di blog ini dan menemukan beberapa. Bahkan salah satu tulisan saya, sudah membayangkan bagaimana rasanya menjadi Ayah.

Jika posisinya itu adalah saya, ketika ditanya pengennya bayi berjenis kelamin apa? Saya akan lantang menjawab inginnya perempuan. Entahlah, akhir-akhir ini membayangkan anak perempuan yang manis dan mengandalkan ayahnya jadi semacam ingin berusaha melindungi.

Mungkin efek banyak baca komik dan beberapa film saat sang Ayah punya kekuatan untuk melindungi anak perempuannya.

Selamat, sekali lagi

Pemilik rumah benar-benar melengkapi seluruh kebahagiaan keluarga besarnya. Dua adiknya malah sudah lebih dulu memiliki anak. Sempurna sekali keluarga mereka.

Saya jadi iri dan kapan saya mengalaminya. Dari sini saya belajar bahwa orang tua yang baik, dapat menjaga segalanya untuk ikut baik. Terutama, anak-anak mereka yang sekarang akhirnya juga menjadi orang tua.

Orang tua saya juga sangat baik, namun baik di sini bukan tentang sikap atau keramahan. Tapi dukungan, bantuan, dorongan dan kerja keras yang luar biasa. 

Andai saya diberi kesempatan kedua dalam hidup, saya ingin membawa keluarga saya juga lebih baik lagi. Entah itu saya yang jadi orang tua atau saya yang kembali menjadi anak-anak orang tua saya.

Selamat datang di klub, para Ayah!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini