Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bulu Kucing

[Artikel 25#, kategori kucing] Beberapa minggu belakangan, Si Winky senang berada di belakang rumah. Ia selalu menunggu saya di sana saat mau keluar rumah. Terkadang ia terlelap tidur di sana juga. Sesuatu yang membuat saya sangat senang sebagai pemilik kucing.

Semenjak kucing ini dipelihara tetangga, saya jarang melihatnya betah di rumah. Si Winky memang suka nemenin saya sedang menyapu di halaman luar rumah, tapi ia akan kembali ke rumah tetangga yang memeliharanya.

Nah, semenjak saya memberinya minum susu, ia rajin nungguin di belakang. Saya baru tahu pengaruh susu sangat disukainya sehingga ia rela tidak pulang ke rumah tetangga. Sampai pernah saya lihat si tetangga cari si Winky sampai ke rumah bagian belakang.

Bulu kucing

Sepertinya benar, ketika kamu sedang bahagia, selalu disertai perasaan tidak disukai. Winky yang tinggal di dekat pintu belakang mendadak jadi masalah oleh salah satu penghuni rumah.

Saya yang sedang di luar karena sedang bermain futsal, mendadak kesal. Hanya karena bulu masuk ke dalam rumah sisi belakang, dia chat agar saya jangan kasih makanan lagi di belakang.

Saya yang begitu lelah karena habis bermain mendadak kesal. Kucing itu posisinya di luar, bukan di dalam. Jika ada bulu yang ke dalam, tinggal sapu atau tutup pintunya.

Akhir-akhir ini, orang satu ini buat saya selalu dilema. Mau marah tapi dia yang punya rumah. Saya yang cuma numpang hanya bisa tahu diri.

Masalahnya ini cuma kucing, kenapa harus jadi masalah coba. Padahal pemilik rumah sangat suka dengan kucing. Herman saya.

...

Seolah dejavu, saya mengingat masa lalu saya awal-awal tinggal di Kota Semarang. Saat itu juga kehidupan saya tidak menyenangkan karna ulah salah satu penghuni rumah. Seolah ceritanya berulang.

Saya malas menanggapi chatnya pada akhirnya. Hal kecil ini jadi persoalan. Saya semakin tidak menyukainya semenjak ia membuang motor mio yang saya pertahankan.

Terkadang saya menengok ke belakang, dosa apa sebenarnya yang saya lakuin hingga harus dilema di era sekarang. Saya mau marah, tapi ditahan oleh keadaan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini