Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Rumah Kembali Rame

[Artikel 69#, kategori rumah] Senang mendengarnya jika penghuni lainnya akan tiba di rumah. Hanya saja kabar kedatangannya buat terkejut. Si bungsu, sang suami ternyata sedang ada di Samarinda dan akan pulang bersama sang istri serta anaknya. Lho, lho kapan si bungsu pulang ke kotanya?

Beberapa rencana yang sudah dipersiapkan hari ini, Kamis (18/7), mendadak gagal. Rencananya saya akan naik sepeda ke Hotel Quest Simpang Lima yang dipakai Dinas Kesehatan Kota Semarang yang mengadakan acara di sana.

Dalam bayangan saya, tubuh yang barusan begitu lelah karena digunakan bermain futsal akan jadi cerita menarik yang akan saya bagikan di media sosial nantinya. Eh, ternyata sebuah pesan singkat mengubah rencananya.

Bandara Semarang

Saya benar-benar kaget saat si bungsu minta jemput yang nantinya datang bersama istri tercinta. Lah, beberapa hari kemarin perasaan dia ada di Kota Semarang. Kapan dia terbang ke Samarinda.

Karena terbiasa jemput pasti ke Jogja, saya pikir akan ribet harus ke sana dulu. Apalagi saya akan menghadiri acara Dinkes paginya. Waduh..gimana dong.

Eh, ternyata bukan Jogja. Mereka akan datang dan tiba di bandara Semarang rupanya pada malam hari. Syukurlah. Sepertinya aktivitas hari ini akan sangat banyak dan panjang rasanya.

Rumah kembali berpenghuni

Sebulan lebih rumah ditinggal keluarga kecil si bungsu. Memang saya menyukai keheningannya, tapi terkadang saya merindukan suasana ramenya juga. 

Karna keluarga si bungsu datang, rumah kembali berpenghuni. Meski saya tahu akan ada banyak kekhawatiran nantinya, ya rumah akan menjadi rame. Sesuatu yang hilang beberapa saat.

...

Masih jadi pertanyaan buat saya, mengapa si bungsu akhirnya ikut pulang dan jemput sang istri dan anaknya yang sebulan lebih sudah ada di Samarinda. Begitukah hubungan suami istri yang kuat dan harmonis?

Pria akan rela membuang waktu berharganya demi keluarga tercinta. Kisah yang sedikit buat saya iri dan berharap segera nikah bila jodohnya sudah ketemu.

Eh, selesai jemput saya harus beraktivitas lagi. Yaitu, main futsal malam harinya. Duh, banyak bener.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini