Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mengambil Tanggung Jawab


[Artikel 59#, kategori motivasi] Tidak banyak orang, mungkin kamu juga tidak akan mau bila mengambil sebuah tanggung jawab yang membuat akhirnya menjadi beban. Padahal persoalan diri saja masih kompleks, masih harus berpikir tentang tanggung jawab.

Perdebatan pagi antara saya dan adik saya hari ini rasanya tidak akan usai bila saling menyalahkan keadaan. Padahal, tinggal mengambil tanggung jawab saja untuk menyelesaikannya.

Setelah mengakhiri percakapan lewat pesan media sosial, saya memikirkan kembali diri saya yang saat ini juga banyak mengambil tanggung jawab.

Kalau bukan kita, siapa lagi

Di rumah yang saya tinggali, rumah keluarga, ada beberapa laki-laki yang tinggal. Si tuan rumah tentu saja dan satu lagi si Amir yang kini bekerja.

Kalau saya mengikuti ego, saya tidak ingin terlalu jadi orang yang terlihat rajin. Saya ingin seperti mereka. Bangun siang, tidak ngapa-ngapain dan rajin saat benar-benar harus rajin (semisal disuruh atau karena kondisinya memang harus).

Saya bukan membenci mereka atau menyalahkan kodrat saya di rumah ini. Tapi kalau tidak ada satu pun yang mengambil inisiatif, tentu saja kondisi rumah tidak nyaman.

Saya mengambil tanggung jawab itu tanpa perlu harus menyalahkan dan menyudutkan siapa pun. Selama bisa saya lakukan, maka saya kerjakan. Dan bila tidak, saya tidak akan memaksa diri.

Beban harus dipikul

Mengambil tanggung jawab itu berarti ada beban yang dipikul. Wajar saja dan itu hal biasa. Seberapa berat, tergantung kita cara memandangnya.

dotsemarang adalah salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup saya di Semarang. Orang-orang mungkin saja terus mengingat nama ini atau sengaja melupakan.

Saya tahu, banyak kondisi dan alasan untuk itu. Yang saya tahu, saya harus mengambil tanggung jawab menjaga nama dotsemarang tetap hidup.

Itu beban sebenarnya. Apalagi bicara masa depan tanpa ada banyak bantuan. Saya tidak menyalahkan siapapun atau nasib saya. Saya hanya melakukan saja. Tidak penting seberapa berat beban itu. Yang pasti saya menikmatinya.

Jadi, jangan menyalahkan siapa pun. Bila bisa diambil, ambil saja. Kalau tidak, ya biarlah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini