Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Menjadi Dewasa Itu Melelahkan


[Artikel 2#, kategori pria 34 tahun] Tanpa sadar, dituntut untuk mengerti. Mengalah dengan apa yang terjadi. Kalau mau marah, dianggap anak kecil yang sedang ngambek. Dilawan sama-sama keras, dianggap tak punya hati. Lalu ditinggal pergi. Sangat melelahkan jika dipikir kembali. Tidak bisakah saling melengkapi?

Saya berbicara tentang keadaan dua orang kekasih. Pria yang sudah dewasa dari segi umur. Dianggap cukup dari sisi kualifikasi pernikahan dan tentu, paham manis asam garam kehidupan.

Satunya, wanita yang penuh enerjik. Dewasa saat sedang mood bahagia. Dan sebaliknya, mood buruk bakal membuatnya jadi gadis berusia belasan tahun yang selalu menuntut. Bila tidak dipenuhi, ngambek adalah pilihannya. Dua sisi berbeda yang tak ragu-ragu mengeluarkan mulut pedas hingga keputusan yang seolah mudah tanpa kompromi.

Melelahkan

Entah kenapa sebagian pria menyukainya. Bertahan dengan pasangannya, seolah punya banyak tenaga untuk mencintai. Rasa lelah seolah bagian dari kehidupan. Selama itu adalah cinta.

Terkadang saya ingin mundur, diam, tak melakukan apapun. Nyatanya, logika tetap kalah oleh perasaan. Apakah ini berarti persentase jatuh cinta lebih besar ketimbang memikirkan rasa sakit akibat cinta tersebut? Entahlah. Bertahan karena rasa adalah obat terbaik untuk mengatasi rasa lelah.

...

Andai saya dapat berkat pengulangan hidup menjadi pria muda, mungkinkah saya akan pergi ketika merasa lelah menjadi kekasih?

Saya harap tidak. Jatuh cinta memang ajaib. Seperti candu yang terkadang tidak butuh alasan untuk bertahan.

Selama tetap bersamanya. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini