Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo Agustus 2020; Sebuah Penantian


[Artikel 78#, kategori catatan] Tidak terasa, saya sudah sampai di sini. Menantinya hanya tinggal hitungan minggu. Rindu serindu-rindunya, pokoknya. Beban yang selama ini dipikul bakal terasa ringan. Tidak mudah menjaga pikiran ini tetap normal, namun saya melakukannya.

Kekhawatiran pandemi yang terus meningkat di Kota Semarang benar-benar merusak tatanan yang telah dibuat jalan. Padahal, untuk membuka jalan yang masih lebat karena hutan, tidaklah mudah. 

Sekarang. Uang logam nominal 100 rupiah pun sangat berharga. Apalagi dikumpulkan menjadi satu, lalu kemudian diplester dengan isolasi bening. Setidaknya, saya bisa mengumpulkan 2 ribu rupiah yang dapat digunakan untuk pompa ban sepeda.

Sebuah penantian

Meski saya menderita dari sisi finansial, saya selalu menepuk kedua pipi saya ketika frustasi datang. Plak..plak..plak.. tidak tidak, bukan hanya saya saja yang terdampak karena covid-19. Bahkan ada yang lebih menderita lagi dari saya. Ini hanya ujian dan segera akan berlalu.

Begitu saya menyemangati hari-hari saya untuk terus optimis. Apalagi bulan Agustus sudah tiba. Ada harapan baru, lembaran baru yang belum diceritakan dan menantinya kembali dari luar negeri.

Saya tidak sabar untuk memeluknya dan mendekapnya erat agar jiwa dan raga saya yang hilang beberapa bulan bisa kembali utuh. Masa depan kami memang sudah dituliskan, tapi kami ingin menikmati waktu yang masih diberikan.

Terus berjuang

Saya mengerti orang-orang butuh tempat beraktualisasi diri. Mereka semakin tidak malu mengumbar perasaan mereka. Sedih, senang dan duka, hanya sebuah cerita yang entah disengaja atau sebaliknya.

Mengapa mereka masih mengeluh ketika mereka sebenarnya lebih baik dari saya. Apakah kenyamanan adalah alasan. Atau kiasan agar orang-orang seperti saya menyapanya?

Menjadi pria seperti saya saat ini memang harus terus berjuang. Tidak mudah menjadi dewasa yang makin hari semakin merajalela. Ya, itu pikiran dan tuntutan yang datang dalam diri. Seolah, kemana saja selama ini?

...

Halo Agustus, saya terus berdoa agar setiap harinya dapat berubah. Ketika takdir sudah ditulis, hanya kerja keras yang perlu dirilis. Bertahan, bertahan dan bertahan.

Banyak kabar baik yang siap menyambut saya di bulan kedelapan ini. Saya harap semua baik-baik saja dan sesuai harapan. Dan semoga, tidak terdampak covid-19. Saya masih punya banyak mimpi.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini