Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Terakhir Bulan Februari 2021

[Artikel 64#, kategori futsal] Sepertinya makin ke sini, posisi kiper lebih menantang ketimbang beradu skil di tengah lapangan. Sensasinya berbeda. Jatuh ke kanan, maju ke depan dan terkadang salah mengantisipasi bola yang datang. Padahal sudah sesuai pandangan. 

Kamis terakhir di bulan Februari, jatuh pada tanggal 25. Bersyukur cuaca lebih kalem dari Minggu lalu. Karena kamis terakhir, maka sudah waktunya memikirkan iuran bulanan yang sebentar lagi di depan mata. Ya, bulan Maret. 

Sial, dua bulan terakhir masih tanpa pendapatan. Sisa uang dari keluarga sangat tipis. Untuk futsal, saya akan usahakan pastinya.

Nambah 5 ribu

Saya adalah pemain yang beruntung karena iurannya ditalangin separuh oleh sesama rekan. Namun beberapa minggu terakhir, waktu bermain dua jam terasa kurang. Mau tidak mau harus nambah uang iuran. Semoga bulan Maret, saya tidak berhutang.

Ya, semua sepakat menambah durasi 30 menit. Itu artinya total waktu bermain futsal kami 2 jam 30 menit. Entah kenapa nominal 5 ribu terasa berat buat saya. Tapi ya, sudahlah.

Semakin menyukai jadi kiper

Sudah 3 minggu terakhir saya menambahkan kaos kaki tambahan di lutut. Tiap menerjang bola, rumput buatan selalu memberi bekas luka. Tiap selesai bermain dan mandi, itu terasa perih. Terutama bagian lutut.

Semua sudah resiko karena posisi kiper yang selalu diambil. Teman-teman tidak ada yang spesialis kiper, ada pun jarang-jarang nongol. Daripada mengundi siapa yang harus menjaga gawang, lebih baik saya berinisiatif.

Hari ini saya meski bermain baik, tetap saja kecolongan alias kebobolan. Konyolnya sebagian besar karena kesalahan sendiri yang salah mengantisipasi.

Cepat pulang

Sudah dua pekan belakangan ini, perasaan setelah selesai terasa ada beban. Seseorang sedang menunggu di sana. Mau tidak mau, harus cepat pulang agar tidak membuatnya khawatir.

Tapi tanpa ada dia pun, saya juga jarang ikut berkumpul dengan rekan-rekan lain yang biasanya selesai bermain langsung mencari makan.

Sudah tahu kan alasannya? Bayar futsal aja dibayarin, gimana mau ikut nimbrung makan dengan isi dompet yang melompong.

...

Saya berdiri memperhatikan lapangan yang terasa seperti sedang bermain catur. Semua kelihatan dan tampak jelas. Sesaat, asap keluar dari tubuh. Saya kaget awalnya, apakah ada yang bakar-bakar atau sedang merokok di belakang?

Itu ternyata suhu tubuh yang sedang meningkat, plus cuaca yang sedang dingin setelah paginya hujan. Beberapa hari Kota Semarang memang sering hujan, mungkin itu salah satu faktornya.

Alhasil, lapangan yang kami gunakan terlihat kabut di tengah-tengah permainan. Semua tubuh para pemain mengeluarkan asap.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger