Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Gunakan Sewa Transportasi (Pulang)

[Artikel 26#, kategori rumah] Orang rumah akhirnya pulang juga hari ini. Karena menggunakan rute bandara Jogja, dengan jumlah orang yang lebih banyak, mau tidak mau gunakan sewa mobil. Sangat mudah sekarang mencari kendaraan untuk disewa, namun masalahnya, mereka dipercaya tidak?

Rumah kembali sepi, tidak ada makanan di meja makan yang sangat berlimpah semenjak mereka datang awal puasa. Atau suara memasak dini hari yang saat saya bangun, tak berapa lama, mereka ikut bangun.

Rute Jogja

Salah satu keuntungan pulang lewat bandara Jogja adalah kedatangan yang langsung di bandara Samarinda. Berbeda dengan pulang lewat bandara Semarang, kedatangan bukan di Kota Samarinda. Melainkan Kota Balikpapan.

Dari Balikpapan ke Samarinda menempuh kurang lebih 2 jam lebih. Kalau pengemudinya profesional, bisa tembus 2 jam saja. Bagi keluarga, tentu itu sedikit menyusahkan. Apalagi tidak ada orang yang menjemput.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian. Mungkin itulah gambaran mengapa memilih Jogja ketimbang Semarang yang masih belum memiliki maskapai tujuan Ibu Kota Kalimantan Timur.

Sewa mobil Semarang

Semenjak akrab dengan online travel agent (OTA), tiket.com, saya punya referensi sewa mobil Semarang yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Akhirnya tiba juga yang ditunggu-tunggu. Mari cari-cari sewa mobil.

Karena tujuannya luar kota, ternyata sedikit ribet karena harus menyesuaikan zona per zona. Harga yang ditampilkan memang terlihat murah, tapi pas dihitung-hitung, mahal juga biayanya. Harga yang ditawarkan lewat aplikasi hanya sebatas dalam kota.

Pilihan akhirnya jatuh pada penyedia sewa dari Instagram bukan lewat aplikasi OTA. Cari-cari dengan kata kunci 'sewa mobil Semarang', eh nemu akun yang sepertinya punya image baik.

Akhirnya dihubungi dan lumayan respon cepat. Karena orangnya banyak, kami request mobil dengan ciri tertentu. Apalagi juga, bawaan tidak sedikit. Butuh yang lega isi dalam mobilnya.

Proses yang lancar, saya pikir akan mudah langsung datang. Ternyata harus bayar DP dulu. Benar juga sih, tapi gak sempat mikir ke sana. Pelajaran berharga bila ingin sewa mobil nantinya.

...

Siang itu, Rabu (21/4), mereka pergi dengan mobil yang sudah disewa menuju bandara Jogja. Bukan saja berpacu waktu, saya harap semua kembali ke rumah dengan selamat semuanya.

Andai pemerintah tidak membatasi waktu mudik, tentu mereka akan lebih lama lagi di rumah Semarang. Tinggal anak pemilik rumah dan istrinya yang belum pulang. Mereka juga balik beberapa hari kemudian dan dengan rute yang sama, Jogja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini