Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Waktu yang Kamu Buang


[Artikel 22#, kategori Causeway] Nanti kalau kamu baca ini, saya berharap kamu tidak menyesal dengan waktu yang semakin sedikit. Waktu itu menurut saya ibarat wanita bertangan besi. Mereka terus berjalan tanpa henti dan meninggalkan kamu tanpa perasaan sedikitpun. 

Ketika kamu menyia-nyiakannya, jangan harap kamu bisa memutarnya kembali seperti bayangan film - film yang selama ini kamu tonton.

Waktu mengajarkan kita lebih dewasa. Bagaimana ia membuat kamu belajar menghargai, konsisten, percaya dan bersenang - senang saat kamu bisa mengaturnya. Waktu juga membuat kita nyaman dengan janji - janji bertemu banyak orang. Gak kebayang, kalau di dunia ini waktu tiba - tiba berhenti. Apakah kamu masih bersikap tidak menghargainya.

Ketika pagi datang, saat sang waktu memberi kesempatan buat manusia bekerja dan berkarya, kamu malah pergi dari sisinya. Kamu masih egois dengannya. Kamu menganggap ia hanyalah bantal yang buatmu terlelap dan bangun saat semua sudah lelah.

Ketika malam tiba, waktu adalah pelayananmu. Ia memberikan kebebasan hidup yang selama ini kamu banggakan. Ia kamu suruh diam ditengah keheningan malam, menemanimu dan melayanimu. Mirip dengan wanita yang selalu tahu dirimu.

Sekarang, mungkin kamu tak melihat waktu mengeluh padamu. Marah atau membencimu. Namun kamu harus sadar bahwa waktu sama seperti wanita yang banyak meninggalkanmu. Bedanya, wanitamu masih punya perasaan. Sedangkan sang waktu terus berjalan tanpa perasaan.

Saya harap suatu hari kelak, kamu tak menyesal pada sang waktu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini