Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Semakin Kreatif Menggunakan Media Sosial, Jenjang Karir Pun Meningkat


Ada kabar baik dari saudara saya yang bisa dijadikan motivasi untuk kamu atau kalian. Khususnya para pekerja yang berada di perusahaan atau semacamnya. Baginya menjadi dirinya dalam menjalani tugasnya, membuatnya bahagia. 

Saya senang dan turut bahagia dengan pencapaian yang diraih hari ini. Setiap Dia bercerita kepada saya, ia sedang mempertimbangkan dan mendapatkan dukungan dalam mengambil keputusan.

Dari sisi pengalaman, tentu saja saya tidak dapat memberi masukan banyak. Terkait pekerjaan, mengingat saya bekerja sendiri. Namun dalam hal pengembangan konten, saya punya banyak hal untuk bisa didiskusikan.

Mengulik media sosial dengan sisi kreatif

Saya tahu bekerja itu tidaklah mudah. Banyak target yang harus dicapai dan menghormati beragam aturan dari tempat yang memberi gaji tiap bulan.

Namun bukan berarti kita bisa tunduk dan menjadi manusia biasa yang ikut tenggelam di sana. Seseorang dapat mengembangkan diri untuk lebih kreatif. Satu-satunya mendapatkan insting ini adalah mencintai pekerjaan.

Semua orang sebenarnya ditakdirkan kreatif, namun tidak semua orang memiliki pengalaman. Dia memiliki pengalaman sebelumnya dan berhasil memetiknya kemudian.

Ditengah tuntutan pekerjaan, Dia aktif memanfaatkan media sosial yang digunakan untuk mendukung pekerjaan. Ya, media sosial adalah alat terbaik di era modern.

Saat berpikir apa yang dilakukan juga banyak orang yang melakukannya, Dia mencari sisi kreatif dengan pemikiran berbeda dari orang lain.

Ketika semua orang (baca pekerja sepertinya) berpikir sama, ia mencoba berbeda. Akun yang dikelolanya ditampilkan dengan pendekatan yang menarik, kreatif dan penuh dengan cerita.

Dia terus melakukannya dengan pemikiran bahwa konsisten adalah harga penting dalam membangun konten di media sosial.

Tawaran

Beberapa kali Dia bercerita, semangatnya terus ada. Sebagai seseorang yang dekat, saya tahu bahwa cuma dukungan saja yang mampu membuat saya berguna.

Suatu hari, saat saya berada pusat keramaian, Dia menghubungi saya bahwa kerja kerasnya beberapa bulan berbuah manis.

Akun yang dikelolanya rupanya menarik atasan karena dianggap berbeda dengan pekerja lainnya. Ada sisi kreatif dan storytelling yang belum dapat dilakukan yang lain.

Cerita inspiratif ini tentu saja membuatnya lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi. Tawaran yang datang merupakan kesempatan yang dibuka dari apa yang sudah dilakukan.

Sukses yang dilakukannya, membuat posisinya lebih baik kali ini. Dan tidak menutup kemungkinan masih ada tawaran lain bila apa yang dilakukannya terus membuahkan kesan positif.

...

Cerita ini tentu mewakili setiap orang yang ingin melihat jenjang karir di masa depan terus naik. Sedangkan bagi pekerja milenial, memulai pekerjaan dengan cara mencintainya adalah hal yang harus dilakukan dari awal.

Karena dengan mencintai, potensi diri sebelum bekerja dengan pengalaman yang sudah ada, membawa sisi kreatif yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Mulailah dari sederhana, mengulik media sosial yang mendukung tempat kita bekerja. Membangun citra dari sana, melakukan kampanye promosi yang berdampak pada distribusi hingga produktivitas. 

Terdengar mudah memang, tapi cerita ini memang benar dan nyata.

Artikel terkait :

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini