Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Quote : Tidak Apa-apa Uang Berkurang, Asal Jangan Waktu yang Terbuang

[Artikel 2#, kategori Quote] Dibalik quote ini, perasaan saya sangat geram, kesal dan tidak akan percaya lagi dengan seseorang. Niat baik yang ingin saya berikan, malah dipermainkan.

Jumat sore (17/12), saya memberikan waktu istirahat saya yang malam sebelumnya habis bermain futsal. Tubuh yang masih lelah dan cedera yang diderita biasanya jadi alasan saya untuk menghabiskan waktu di rumah seharian. 

Termasuk bersepeda pagi hari yang rutin saya lakukan, karena futsal, saya tiadakan.

Niat baik

Saya janjian dengan seorang wanita, tapi bukan teman kencan. Ada hal yang berhubungan dengan promosi yang melibatkan dengan dotsemarang. Seperti biasa, mempromosikan sesuatu.

Karena sudah janji beberapa hari sebelumnya, saya mengorbankan waktu istirahat untuk pertemuan ini. Apalagi ada tujuan besar dari kerja sama yang akan kami kerjakan.

Saya datang sesuai waktunya yang ia berikan jika ia akan berada di lokasi sore hari di sana. 

Sambil nunggu dia datang, saya memesan makanan dan minuman. Saya sadar diri jika di dompet tidak ada uang untuk membayar.

Terpaksa menggunakan aplikasi yang seharusnya tidak saya pakai, mengingat itu hasil jerih payah yang tidak boleh dikeluarkan. Tidak banyak, tapi cukup untuk makan di sini.

Apalagi saya sangat haus karena ke sini dengan bersepeda. Hanya bisa membeli sebotol air mineral, itu pun sudah terbilang mahal buat saya.

Tidak tepat waktu

Sudah beberapa jam di sini, orang yang ditunggu belum datang. Pesan yang saya kirimkan juga belum dicentang biru. Saya tahu dia sibuk, tapi jangan lupakan janji yang disepakati.

Pada akhirnya saya sudah tidak bisa menahan diri, mengingat makanan juga sudah habis. Mau ngapain lama-lama di sini. Apalagi jam yang disepekati sudah terlalu lama dilewati.

Saat saya hendak pergi, ia akhirnya membalas dan menyuruh saya menunggu. Andai saya ingin mengejar uang semata, mungkin saya rela menunggu.

Tapi dia sudah tidak menepati waktu yang kita sepakati. Yasudahlah, bukan rejeki saya kali ini. 

Entah apa yang dipikirkannya, apakah karena saya tidak penting atau berharga? Ini bukan kali ini saja sikapnya mengabaikan saya.

Sejak awal saat ingin mengajak kerja sama, saya memberi saran ini dan itu. Yang malah diundang teman-teman saya. 

Saya malah datang dengan orang lain dan kaget dengan apa yang dilakukannya setelah mendengar dari owner-nya langsung. 

Saya kecewa waktu itu, tapi kali ini lebih kecewa. Kenapa orang yang baik, yang murah senyum dan pandai berkomunikasi bisa melakukan kesalahan kepada saya.

Quote

Ia memang meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan. Sayangnya saya sudah terlanjur kecewa dan sudah di rumah. 

Pelajaran berharga kali ini untuk saya. Sebaik apapun, totalitas sebanyak apapun, terkadang bila memang belum jodohnya, ya tidak akan bisa digapai. (jodoh=rejeki).

Kita berhak marah dan kesal. Semoga saja bisa kembali reda. Saya benci dengan diri saya sendiri yang saat sudah berbuat lebih, malah dikhianati atau disepelein.

Jadi, tidak apa-apa uang saya terbuang hari ini. Tapi lain kali, tolong hargai waktu. Setidaknya mengabarin. Ada orang yang menunggu di sana dengan harapan besar. Apalagi penuh peluh untuk sampai di tempat.

Terima kasih pelajaran hidup hari ini.

 Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini