Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mantan datang

[Artikel 70#, kategori Cinta] Dia datang, tapi bukan melepas rindu. Ia merasa sangat lapar, lalu makan. Terdengar lucu, tapi itu beneran. Apalagi saya janji mengajaknya makan-makan karena ia telah diwisuda. Selamat dan maaf, hanya itu yang bisa saya ucapkan untuk keberhasilannya.

Tidak menyangkut harapan tentang mantan yang kembali datang terjadi hari ini. Dari sekian mantan, entah kenapa tak ada satu pun yang melihat saya sebagai sosok manusia. Bukan barang yang sekali pakai tinggal buang ke dalam tong sampah.

Dan ia (mantan) mengabulkan harapan yang sangat lama terpendam. Meski pada akhirnya dia pergi dan tak ada kabar lagi kemudian.

Saya berharap mendekapnya lebih lama, tapi ia sudah memiliki hubungan baru yang sepertinya jauh lebih baik dari hubungan kami sebelumnya.

Kedatangan mantan juga menjadikan saya sebagai sosok yang tak pernah saya bayangkan berada diposisi tersebut. Saya adalah selingkuhan kekasih orang lain. Sangat kejam buat saya yang mengatasnamakan kesetiaan di atas segalanya.

Oleh karena itu, saya menyuruhnya lekas pergi setelah bertemu saya. Janji saya sudah terlaksana dan ia berhak bahagia.

Saya? Hanya bisa kembali bersedih karena mengenang hubungan yang pernah terjadi diantara kami berdua. Bagaimana saya berjuang mempertahankan, menangis, kehujanan dan menjaganya agar terus sehat.

Entah karma siapa yang saya ambil untuk dipertanggungjawabkan. Apakah orang tua saya, orang yang saya sakiti atau diri saya di masa lalu (reinkarnasi). Eh berlebihan, ini kebanyakan baca komik isekai 😅. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini