Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Terabaikan

[Artikel 39#, kategori wanita] Kukira kenapa saya mendadak ragu, apakah ini rasa cemburu? Apalagi kami memang belum punya status. Tapi dia tahu perasaan saya yang terus memberi sinyal secara gamblang. Ya, itu benar-benar terjadi. Perasaan ini (feeling) tidak pernah salah.

Akhir tahun saya pikir akan mendobrak tradisi tanpa punya pasangan yang saya lewati beberapa tahun terakhir. Kesempatan terbuka lebar kala janji ketemu selalu ditepati. Ngopi berdua, nonton, menyaksikan konser dan sebagainya.

Keraguan itu

Suatu ketika ada acara menarik yang mengundang saya seperti biasanya. Saya mengajaknya karena ini bisa nambah referensi dan pengalaman baginya. Seperti dejavu.

Ia tertarik, namun ragu karena kapasitasnya belum membuat dia ikut diajak oleh sesama rekannya.

Bahkan, ia menunjukkan pesan dari pria lain yang dianggapnya sebatas teman untuk menghadiri acara yang saya ajak. Di sini saya mulai tidak enak. Gimana bisa ia menunjukkan hal tersebut tanpa ragu.

Mengabaikan

Meski perasaan saya tidak enak, saya berusaha positif. Lalu saya bertanya ada teman yang mengajak saya ke acara.

Masih ada slot? Pesan saya terkirim.

Alhamdulillah, ada yang memberikan slot karena peserta lain ada acara lain. Dan dia langsung saya hubungi dan mengajaknya saat acara.

Hari H tiba, saya dan dia akhirnya datang ke acara. Saya pikir ini bakal menyenangkan mengajaknya dan menambah kedekatan kami.

Eh setelah pintu lift ke buka, pria yang mengajaknya lewat pesan chat yang pesannya diberitahukan kepada saya ada di tempat acara.

Dalam hati, nih perempuan emang polos apa? Waktu dia mengajaknya apa gak ngerti jika pria itu mengajaknya juga.

Beneran terjadi, datang sama siapa, nempel sama siapa. Saya adalah manusia yang terabaikan saat itu. Sakit rasanya.

Feeling yang selalu benar

Tanpa sadar, waktu yang sudah dihabiskan di sana memberi sinyal untuk segera pulang. Untunglah perut kenyang.

Saat saya menunggu dan memesan driver online, dia masih di tempat acara bersama si pria tersebut.

Saya mengajaknya pulang, biar kita lanjutkan di tempat lain pertemuan saat itu. Ia menolak dengan alasan belum selesai.

Hujan yang mengguyur seperti sebuah tanda jika langkah saya mendekatinya harus berakhir saat itu.

Feeling saya selalu benar, dia dan pria tersebut bukan lagi sekedar hubungan pertemanan. Ya, meski tidak berpacaran juga.

Kedekatannya mampu membuang saya dan mengabaikan begitu saja. Seolah apa yang sudah saya lakukan hanyalah iseng belaka.

Beberapa hari kemudian, ia membagikan aktivitas bersama si pria tersebut. Ternyata feeling saya benar.

Ini bukan perasaan cemburu pada akhirnya, ini perasaan marah karena merasa terabaikan.

...

Akhir tahun kali ini rasanya sama. Sepi yang dianggap kemewahan masih jadi penghibur diri sendiri. Saya belum mampu mendobrak tradisi bertahun-tahun sebelumnya.

Saya harap kepada sebagian para wanita. Saat pria mengajakmu, jangan abaikan dia meski status kalian tidak punya hubungan khusus. Coba jadi dia, bagaimana perasaanmu.

Pelajaran juga buat saya, ketika usahamu sudah tidak ada hasil, apalagi sampai di wanita mengatakan sudah punya pasangan, sebaiknya lepaskan saja.

Dia cantik, dia baik, dia kriteriamu, tapi tetaplah ia bukan jodohmu. Tinggalkan dia, sudah cukup usahamu demi dia.

Kamu (pria) lebih baik dianggap ghosting daripada sakit hati karena terabaikan. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini