Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Timnas Indonesia Era Shin Tae-yong (Piala AFF 2020)

[Artikel 52#, kategori sepakbola] Melihat pertandingan Timnas Indonesia melawan Malaysia di grup B Piala AFF sungguh luar biasa. Bukan karena hasilnya yang juga membuat euforia, tapi karakter permainan yang langsung membayangkan Manchester United saat ini yang ditangangi Ralf Rangnick. Selamat datang era sepak bola menekan lawan lebih dalam (gegenpressing).

Lama tidak menonton pertandingan Timnas Garuda main. Bahkan saat sudah diasuh Shin Tae-young (STY) pun masih malas. Terkadang karena waktunya terbentur dengan aktivitas lain, dan juga belum menemukan semangat agar tertarik.

Karakter

Timnas sudah memainkan beberapa laga dan bahkan sampai membantai beberapa lawan. Namun kesempatan untuk menyaksikan datang ketika melawan Malaysia. Apakah itu panggilan atau rivalitas yang membuat adrenalin tidak ingin melewatkan begitu saja.

Banyak wajah baru di dalam timnas yang dibawa STY pada piala AFF kali ini. Untunglah nama Evan Dimas masih ada dalam daftar. Pemain tipe pengatur yang selalu saya suka. 

Dan benar saja keputusan menontonnya pada Minggu malam kemarin (19/12/21) berbuah manis. Karakter permainan timnas yang tidak memberi ruang kepada pemain Malaysia berkembang, membuat saya kembali bersemangat.

Melihat karakter yang dibawa pemain timnas, tidak salah jika pelatih bergaji 14,2 milyar ini dikontrak federasi. Tentu, prestasi STY juga tidak kaleng-kaleng.

Semoga juara

Rabu malam (22/12), timnas yang lolos babak semifinal dan harus berhadapan dengan Singapura menjadi kali kedua saya menyaksikan laga timnas berlaga.

Perasaan waktu melawan Malaysia masih ada. Saya pikir akan menyenangkan menyaksikannya kali ini.

Meski karakternya tetap ada, skor hasil pertandingan yang berakhir seri 1-1, membuat saya sadar bahwa perjalanan timnas masih panjang.

Karakter sangat penting, namun upaya untuk mendapatkan kemenangan juga lebih penting. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan STY tentunya.

Tidak masalah, saya yakin timnas masihlah salah satu kandidat juara. Masih ada peluang untuk memaksimalkan pemain depan lebih bertaji.

Saya harap, timnas dapat melangkah ke final tentunya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini