Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Itu Tempat Saya (Seharusnya)

[Artikel 69#, kategori Cinta] Kebahagiaan yang saya rasakan awal bulan ternyata hanya bertahan sebentar. Hari ini saya kembali diputar mengitari waktu saat itu. Saya berada disampingnya saat ia bekerja keras, saat hilang semangat dan mengorbankan waktu dan jarak untuknya.

Akhir pekan, 4 Desember 2021, ia resmi memakai topi toga di kepalanya. Meski keluarga tidak datang menghadiri, ia seolah tetap tegar.

Ia sempat mengirimi undangan agar saya datang untuk sekedar mengucapkan selamat kepadanya. Namun tentu saya tolak.

Ia sudah memiliki kekasih, buat apa posisi itu masih diberi? Sekedar menghormati saya yang pernah berjasa, atau pamer bahwa ia berhasil dan sekaligus mengenalkan kekasihnya.

Seharusnya

Saya yang berada disampingnya. Memberi ucapan selamat, memeluknya, ikut tertawa bahagia dan seolah tidak percaya bahwa kita akhirnya sampai di sini. Dan aku adalah bagian dari perjuanganmu.

Sayang, itu hanya imajinasi sesaat yang begitu sesat. Begini rasanya ketika tempat yang seharusnya saya berada di sana diambil oleh orang lain. Perasaan saya mendadak sedih, melow dan ingin sekali berteriak histeris.

Saat melihat gambar mereka, dalam hati berkata 'enak banget kekasihnya yang sekarang. Begitu bangga dengannya, tertawa manja dan ikut bahagia menemaninya'.

Saya? Hanyalah manusia yang kembali kesikan kalinya menjadi bagian proses dari seseorang. Menjadi bayangan, batu loncatan, ikut bahagia saat bahagia dan sebaliknya. Lalu, terlupakan.

...

Selamat menjadi manusia yang bertitle secara resmi. Jangan sia-siakan perjuanganmu yang sudah kamu raih. Banggalah dengan pencapaianmu meski harus berdarah-darah dan menguras air mata.

Terima kasih kamu mengingatku dengan memberi undangan. Maaf, aku tidak datang. Bukan karena aku malas atau tidak senang.

Aku hanya khawatir momen kebahagianmu hanya menjadi luka baru yang harus aku tanggung seumur hidupku.

Kamu bersinar terang, sedangkan aku hanya bayang-bayang yang hilang dalam kegelapan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini