Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dibalik Layar Liputan Akhir Bulan September, Maag kambuh

[Artikel 40#, kategori kesehatan] Terakhir kali maag kambuh parah itu terjadi di bulan April, saat puasa. Dan sekarang kembali kambuh. Akhir bulan September rasanya ini paling parah, sampai 3 hari. Tumbenan.

Jumat dini hari (30/9/22), maag kembali menyerang lambung. Rasanya kali ini saya tahu penyebabnya meski itu rasanya konyol. Gara-gara kecap?

Liputan acara

Ya, benar. Kecapnya bukan sekedar kecap manis, tapi kecap sambel. Perasaan itu baik-baik saja. Saya seharusnya kebal dengan pedas yang tidak seberapa. Namun entah mengapa malah asam lambung naik.

Sialnya, hingga pagi hari, maag masih terasa. Padahal beberapa jam lagi ada acara yang harus didatangin. Tumben, biasanya dikasih minum teh hangat sudah sembuh, ini malah tetap saja. Sampai-sampai saya baru sadar obat maag saya sudah habis.

Terpaksa deh, saat liputan acara dari Smartfren Community, tubuh saya tidak enak. Karena perut juga belum stabil, sampai-sampai saya harus bawa obatnya dengan harapan dapat makan siang pas acara.

Awal Oktober

Saya tidak menyangka satu hari sudah terlewati dan maag belum juga reda. Sempat was-was juga apakah ini maag atau bukan. Dan juga, rumah bakal ramai pada hari Minggu (2/10). Cocok deh. Saya bakal punya waktu sulit untuk kesembuhan.

...

Saya terpaksa mengurangi kopi karena maag masih menyerang. Padahal dengan kopi, konsentasi buat nulis lebih tinggi dan lebih nyaman untuk berpikir.

Di lokasi acara, disediakan kopi. Tubuh yang ngantuk saat itu seharusnya baik-baik saja bila sudah meminum kopi. Sayang saya harus menahan diri dengan mengganti teh manis saj.

Ada-ada saja akhir bulan September ini. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini