Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Yang Dikhawatirkan Terjadi Juga, Maag Kambuh Lagi

[Artikel 18#, kategori puasa] Kali ini saya punya alasan bagus kenapa tidak puasa. Sial, kok sepertinya kelemahan ini (maag) membuat saya terlihat buruk. Tapi mau gimana lagi karena itu terjadi. Dipaksakan juga hanya saya yang merasa menderita.

Maag mendadak kambuh jam 1 dini hari. Saya bertanya-tanya, makan apa hari ini? Salahnya di mana? Makan sambel? Padahal saya sudah rutin minum obat maag saat sahur dan buka puasa. Kok tetap saja maag datang tanpa permisi.

Aktivitas berbuka puasa di hotel

Ini maksud saya. Sejak awal puasa, tidak tidak, bahkan sebelum puasa, undangan mencicipi menu buka datang silih berganti. Menunya pun selain beragam, ada yang sampai ratusan.

Memang tidak semua dicicipi, hanya yang terlihat menarik dan menggugah selera saja. Saya tidak menyangka aktivitas ini turut berdampak pada penyakit yang saya alami sejak duduk di bangku Sekolah.

Dini hari yang terasa sunyi, membuat saya tidak bisa konsentrasi. Segala usaha dilakukan seperti biasa, seperti meminum teh hangat manis. Ya, buat saya ini sangat manjur untuk meredakan nyeri yang seolah menusuk-nusuk.

Namun kali ini berbeda. Perasaan nyeri yang biasanya bila penyakit maagnya ringan akan cepat hilang, hari ini terasa lama. Aktivitas di depan laptop pun terpaksa saya tangguhkan. Benar-benar sulit untuk konsentrasi.

Dan akhirnya saya memutuskan tidak puasa setelah menjalani seminggu berpuasa. Biasanya jika sekali batal, maka akan ada banyak godaan datang. Iman saya sangat lemah di sini.

...

Sore hari, undangan masih ada. Mau tidak mau saat datang ke lokasi acara, saya harus membawa obat maag. Terkadang kenikmatan yang ada di depan mata, seperti sebuah ujian yang mematikan.

Ini adalah kedua kalinya saya tidak puasa hingga tulisan ini dipublish. 😓

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini