Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Obsesi Sama Bule

[Artikel 40#, kategori wanita] Internet mengubah cara pandang, dan juga obsesi seseorang. Bila ada kesempatan, mungkin juga saya akan memilih pasangan bule. Hanya saja itu tidak mungkin. Saya sadar diri kapasistas saya. Namun, ternyata ada yang terobsesi rupanya.

Pantes saja setelah pertemuan malam itu, ia langsung menghilang bak ditelan bumi. Saya pikir obrolan semalam bisa jadi pintu masuk untuk membuka hatinya. Nyatanya, saya terabaikan bak orang tak dikenal.

Obsesi bule

Saya tidak menyangka bahwa pertemuan dengan seseorang di bulan April ini, membawa cerita menarik yang akhirnya menjawab mengapa saya terbaikan dengan dia.

Ketika dirimu (para pria) bertemu dengan wanita yang terobsesi dengan menjalin hubungan dengan bule, sudahlah. Lepaskan saja.

Kriteriamu bakal dikesampingkan. Karaktermu yang baik, hanya jadi jalinan pertemanan saja. Mengharap lebih, jangan sampai.

Saya sadar akhirnya, siapa yang ingin saya gapai. Manusiawi, mengharap lebih dan ingin terlihat sempurna. Dalam diri saya pun juga mengharap demikian.

Ketika rasa lokal sudah kehilangan rasa, mungkin yang rasa internasional bisa jadi pilihan. Lepas satu, tinggal cari yang lain.

...

Setiap orang memiliki pilihan. Saat datang kesempatan, tentu itu menjadi keputusan. Entah kenapa saya jadi minder kalau harus kalah sama bule. Eh kalah segalanya emang 😂

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini