Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Pertama di Bulan Ramadan, Esoknya Malah Gagal Puasa

[Artikel 98#, kategori futsal] Futsal pertama bulan April jatuh pada tanggal 5 April. Ya, ini adalah hari Selasa. Puasa hari ketiga di bulan Ramadan. Sayangnya, esok harinya saya malah gagal puasa (hari keempat). Betapa rapuhnya iman saya.

Ternyata proses adaptasi saya kali ini tidak mudah. Semenjak hari kedua puasa, undangan berbuka puasa di hotel-hotel silih ganti berdatangan. Seharusnya saya lebih baik tentunya.

Hanya saja, semua di luar skenario dari proses adaptasi yang saya coba terapkan. Intinya saya gagal.

Gak sahur

Alasan saya akhirnya bocor puasanya karena nggak sahur. Saya bangunnya kesiangan, yaitu jam 5 pagi. 

Saya tidak menyangka pulang futsal hingga jam 11 malam sangat berdampak dengan pola jam bangun saya yang biasanya aman-aman saja.

Saya lupa ini puasa dan setelah pulang futsal, lalu beres-beres (mandi), saya tidak makan sama sekali. Nyaris isi perut saya kosong dan kenyang pun karena sisa buka bareng di hotel sebelumnya.

Niatnya setelah bangun jam 5, saya ingin tetap berpuasa. Namun saat waktu terus berjalan, tubuh saya benar-benar lemes.

Lapar ini benar-benar buat kepala pusing. Kurangnya air membuat tubuh saya lemes. Apalagi banyak aktivitas di rumah yang harus dikerjakan dan sore harinya ada kegiatan.

Sebuah alasan tentunya hanya untuk membenarkan diri yang tanpa sadar, memang saya belum siap. Keimanan saya masih sangat rendah meski umur saya sudah dewasa.

Futsal

Futsal pertama di bulan puasa adalah hari Selasa. Saya lagi-lagi jadi kiper. Menahan rasa sakit dari cedera yang tidak sembuh-sembuh.

Beberapa teman saya bercanda tentang sarung tangan yang saya kenakan. Itu terlalu besar kata mereka. 

Ya, mau gimana lagi. Sarung tangan ini diberikan kiper kami yang sekarang sudah punya sarung tangan baru. Ia menganggap saya penuh harap bahwa posisi saya bisa menjadi kiper.

Akhir waktu, menjelang usai, saya mendapatkan kesempatan bermain. Ternyata puasa sangat berdampak. Tubuh saya lelah sekali, tidak banyak gerak.

Setelah peluit dibunyikan oleh penjaga lapangan futsal, saya langsung terkulai lemes di pinggir lorong area futsal.

Deg-degan, suara jantung saya terdengar lebih cepat. Kepala saya pusing. Dan butuh waktu lama untuk saya memejam mata, seolah yang dilihat orang-orang, saya sedang enak tiduran.

Dan di sinilah awal mula akhirnya turut berdampak pada saat seharusnya sahur, saya malah tidur.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini