Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Sepeda Ontel, Komunitas dan Era Media Sosial


Tidak hanya didominasi generasi tua, pengguna sepeda Ontel yang mengikuti acara di Semarang ini juga didominasi kaum muda dan bahkan wanita. Mereka menyukai sesuatu yang pada masanya pernah berjaya dan berharap tetap lestari hingga kapan pun.


Cukup aneh melihat geliat acara yang terhitung skala Nasional ini tidak begitu kuat ngebranding promosi lewat media sosial. Apalagi mengingat Semarang memiliki banyak akun kota yang sebagian besar diatas 50 ribu followersnya.

Tak heran, saya sangat kesulitan mencari informasi acara ini lewat media sosial khususnya Twitter. Ada pun, hanya sebuah poster tentang acara. Lagi-lagi ini soal kepentingan.

Bicara sepeda ontel tentu mengembalikan waktu ke jaman yang mungkin saja saat itu, saya atau kalian ada yang belum lahir. Tapi tidak untuk sebagian orang tua kita yang sudah menggunakannya hingga usianya sama seperti sepedanya.

Rasa suka dan bangga yang ditanamkan lewat sepeda jadoel tersebut di era sekarang menumbuhkan banyak komunitas bertumbuh. Seolah tidak sendiri, orang-orang ini mencoba mempopulerkan sepeda Ontel kembali.

Seperti yang saya temui saat acara Kenduri Sepeda Ontel minggu pagi ini (24/5). sekitar seribuan lebih, berbagai komunitas dan bahkan daerah hingga diluar Jawa, hadir memeriahkan acara tahunan mereka. Sampai-sampai kegiatan mereka diganjar penghargaan dari MURI dengan jumlah peserta dengan pakaian jadoel terbanyak. Luar biasa.

Perlahan tapi pasti, media sosial akhirnya buka suara tentang acara ini. Facebook, twitter, instagram dan mungkin masih banyak lagi mulai mengisahkan acara mereka. Dan itu tanpa disuruh. Setiap orang merasa lebih bangga mendapatkan hasilnya langsung saat berada di lokasi.

Ini berbeda dengan sebelum acara yang bila dilihat dari segi promosi tentu ini menjual sisi acara lebih menarik khususnya respon dari banyak orang.

Jadinya, saat acara ini yang terlihat adalah yang menjadi penikmat dan penonton adalah orang-orang mereka sendiri, masyarakat yang baru tahu, sekedar tahu, dan berada di sekitar. Bila ini sebuah konser musik, maka tak terlihat siapa penonton sebenarnya.

...

Saya jadi teringat tentang komunitas blogger. Penulis blog berkumpul dengan komunitasnya atau hadir sebagai individu. Bercengkrama, menyambung tali silaturahmi dan bercerita tentang aktivitas yang dilakukan. Ini sangat menarik mengingat itu semua.

Pemilik sepeda ontel tentu mereka lebih baik dari blogger yang baru hidup di era teknologi. Bisa dibayangkan bagaimana era sekarang apapun bisa didapat. Dan mengapa harus susah-susah membuat sesuatu yang dipikir kuno harus dikembalikan lagi ke jaman sekarang.

Salut buat komunitas Ontel dan mereka yang menikmati kebersamaannya dua hari ini di kota Semarang. Komunitas ini meski jadoel sebagian dari mereka sudah memanfaatkan media sosial. Dan kebanyakan adalah facebook, bila mencari tentang mereka.

Salam blogger

Komentar

Postingan populer dari blog ini