Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Menikmati Mentari Pagi di MAJT


Tiap pagi, manula atau orang tua yang sudah berumur, berkumpul di anak tangga Masjid Agung Jawa Tengah. Mereka hanya mengobrol dengan paparan sinar mentari pagi. Saya kok membayangkan kemana-mana. Apakah seperti ini masa tua saya kelak?

Hidup cepat sekali berubah. Detik ke menit, hari ke bulan, dan tahun ke tahun. Tak sadar, karena kesibukan kita sudah dianggap senior. Perubahan yang lazim, bukan.

Melihat manula yang asyik dengan dunianya tersebut, kok saya jadi kepikiran tentang masa depan. Apakah saya seperti mereka kelak? Apakah mereka masa mudanya seperti saya. Pria yang sebentar lagi menginjak usia 29 tahun ini sedang menikmati aktivitas olahraga jalan kakinya.

Sepanjang jalan, saya selalu tergoda dengan keindahan seorang wanita. Benar kata ibu (asisten rumah tangga), mau jadi apa anakmu kalau kamu nikah di usia 30an.

Saya berusaha menunduk disetiap jalan saat melihat wanita cakep. Bukan, bukan ini jodoh saya. Saya harus sabar. Masih ada tenggak waktu untuk mengejar wanita. Pikiran dalam hati terus berperang mengatakan hal tersebut.

Sambil menghela nafas, saya seharusnya bangga dengan hidup sekarang. Mumpung masih muda dan bisa melakukan yang saya mau, saya nggak mau berakhir dengan status manula yang berpikir kesehatan penting diusia mereka.

Lekaslah berusaha mengenal kesehatan sejak dini. Jangan sampai, kelak nanti, saya yang ada disana. Duduk-duduk sambil melihat matahari dengan alasan kesehatan.

Setidaknya hari ini saya tahu tentang usia tua, bagaimana melakukan dan menghabiskannya untuk sebuah aktivitas. Ada yang mau juga menikmati mentari pagi disini. Sinar matahari pagi sangat baik, lho.

Salam blogger

Komentar

Postingan populer dari blog ini