Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ini Alat Tempur Saya Pada Saat Semarang Night Carnival 2015


Saya termasuk kategori blogger ribet dan jadoel. Lihat saja tas bawaan. Era dimana smartphone menjadi lebih memiliki kekuatan, seharusnya bawaan juga semakin dikit. Semisal tas slempang. Tunggu dulu, baca alasan saya dulu sebelum mencari pembenaran dibawah ini.

Minggu sore, 3 Mei 2015, di kota Lama. Gelaran Semarang Night Carnival kembali digelar dan tahun ini adalah tahun keempatnya mereka berjalan. Tema yang diusung adalah Semarak Semarang 2015. Banyak berbedanya kali ini dari tahun-tahun sebelumnya. Seperti pengambilan lokasi dan lainnya. Baca disini untuk melihat lebih banyak.

Beberapa kali gelaran ini berlangsung kerap ditemani cuaca yang kurang baik seperti hujan maupun gerimis. Belajar dari sana, saya memutuskan menggunakan peralatan seperti ini.

Ada tas ransel yang saya isi berbagai keperluan. Termasuk payung dan jas hujan. Oh iya, termasuk tongsis dan kamera digital. Ponsel yang saya bawa juga ada. Dua teman baru saya Zenfone 2 dan Liquid Jade menjadi alat yang paling sering digunakan.

Untuk sendal jepit, saya yakin medannya akan basah mengingat cuaca hari itu tidak bersahabat dari pagi hingga menjelang sore. Dan perkiraan itu betul.



Sedangkan kendaraan, saya masih percayakan dengan sepeda yang anti macet bila jalanan nantinya ditutup. Dan itu benar juga. Jam 5 sore, akses ke kantor pos (lokasi acara) Johar, resmi ditutup. Lalu lintas seketika macet.

Waktu terus berjalan dan posisi saya masih berjalan-jalan. sebelumnya saya bersama teman-teman EksploreSemarang, salah satu komunitas Instagram Semarang, yang janjian bertemu di depan gereja Blenduk. Setelah sampai acara, saya memutuskan berpisah untuk mengambil momen acara.

...

Untuk melihat review acara ini, Anda bisa melihatnya DISINI. Dan segini saja cerita saya untuk momen ini. Entahlah, apa yang orang lain pikirkan saat saya ada disana.

Yang jelas, saya sudah kalah kelas dengan wartawan dan komunitas fotographer buat acara ini. Maklum, saya selalu serba terbatas. Makanya pakai tongsis *LOL haha

Salam blogger


Komentar

Postingan populer dari blog ini