Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pulang Pagi


Akhir pekan, Semarang benar-benar bertabur acara. Buat saya ini dilema. Disatu sisi antara memilih untuk dikunjungi dan satu sisi lagi, lebih baik tidak. Lebih asyik di rumah weekend gini sambil memikirkan bagaimana memanajemen waktu saat puasa besok.

Sabtu pagi, kamar yang biasanya ramai suara televisi tidak terdengar seperti biasanya. Kemana penghuninya? Apakah belum pulang dari semalam? Pertanyaan yang seolah sudah hal biasa bagi saya.

Pikiran liar saya pernah dulunya membayangkan acara televisi soal azab. Saat manusia terkena azab seperti musibah atau penyakit, manusia tersebut bisa sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Namun seiring waktu, bahkan acara televisi tersebut yang sudah tidak ada lagi, pikiran saya sudah terbiasa dengan keadaan yang terjadi disekitar saya. Anggap saya lingkaran kehidupan layaknya sarapan itu ya pagi hari.

Apa alasan sebenarnya?

Pria ini akhirnya sudah di kamar saat setelah saya pulang dari bersepeda. Saya menyempatkan bersenda gurau dengan sesekali bersilat lidah mencari apa yang sebenarnya menjadi alasan pulang pagi.

Katanya langit malam membuat perasaannya tidak tenang bila harus pulang meski suara azan berkumandang. Alternatifnya adalah saat hari mulai terang meski matahari belum terbit.

Rasa takut terhadap sesuatu yang tak kasat mata memang menjadi persoalan bagi pria ini. Namun disisi lain, perasaan orang-orang disekitar juga kadang ia harus perhatikan. Karna khawatir itu merupakan sifat manusia yang sangat normal.

...

Namanya juga manusia yang diberi perasaan sehingga selalu berprasangka. Kadang prasangka baik kadang sebaliknya. Ketika umur sudah berkurang, seharusnya manusianya semakin sadar. Hidup ini adalah semu, tidak ada yang kekal abadi.

Menjadi dewasa memang sangat diharapkan semua orang. Terkadang dewasa juga merugikan. Kekhawatiran berlebihan adalah contohnya. Selamat pagi Semarang. Hari ini saya berharap semua baik-baik saja hingga tulisan ini terbaca beberapa tahun kedepan.

Dan tahun depan, saya ingin melihat perbedaannya. Apakah berubah itu hal sulit atau memang sudah kebiasaan yang bakalan dihabiskan hingga sisa umur.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini