Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Saya Bukan Wanita, Tapi Pria


Ini kesekian kalinya saya dipanggil mbak lewat pesan singkat atau SMS. Mau gimana lagi, nama saya memang seperti nama wanita. Tapi saat menyertakan nama saya dari orang yang tidak dikenal, bukankah itu berarti ia sudah mencari tahu atau melihat foto saya dulu.

Saya langsung cepat-cepat menulis tentang kejadian hari ini. Buat saya ini menarik, kadang juga geli. Apalagi yang kirim pesan ingin mengajak kerjasama dengan dotsemarang untuk media partner acaranya.

Membual soal nama

Dari jaman sekolah dulu saat ditanya soal nama, saya selalu membual. Saya selalu bilang bahwa dulu orang tua saya menginginkan anak perempuan. Mereka sudah menyiapkan nama 'Asmara' mungkin pada saat itu.

Karena yang muncul adalah anak laki-laki, mereka merubahnya dengan mengganti huruf belakang dari 'A' menjadi 'i'. Dan jadilah Asmari seperti sekarang. Entah, mengapa juga tidak ada nama panjangnya.

Sudah-sudah, saya hanya membual saja alias bohong. Saya benar-benar nggak tahu mengapa saya diberi nama meski saya tahu saya lahir di malam jumat manis..hehe..

Berharap tidak terulang

Seperti mengharapkan es teh manis di siang hari, kenyataannya tidak manis seperti yang dibayangkan. Saya lupa minta gula dan biasanya es teh ini disebut teh tawar.

Saya hanya berharap kejadian ini tidak terulang meski pasti terulang karna sebuah nama. Semoga saat saya punya anak kelak, saya tidak salah memberi nama yang bakalan nasib anak saya seperti saya.

...

Mengibaratkan sebuah nama itu dalam dunia pemasaran seperti bilang, ini produk susu tapi karna namanya viagra, malah yang ada dikira obat kuat. Sungguh terlalu.

Meski begitu, saya tetap menghormati nama yang diberi orang tua saya ini. Selalu ada arti untuk sebuah nama dan harapan yang sangat tinggi untuk si anak.

Semoga orang tua di era sekarang tidak salah memberi nama.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini