Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Anak Laki-laki dan Ayahnya Dalam Lapangan Futsal


[Artikel 22#, kategori futsal] Ajak anak laki-lakimu bila kamu sedang berkegiatan. Apakah itu futsal atau lainnya. Memupuk anak-anak untuk menyukai sesuatu dari sejak dini bisa dilakukan dengan memperkenalkannya. Apakah masa depannya di sana atau tidak, terserah padanya kelak.

Pekan kedua bulan desember, atau hari Jumat, tanggal 14/12/2018. Sebuah pemandangan hangat diujung sana saat setelah saya tiba di tempat futsal, benar-benar membuat saya kagum pada kedua orang tersebut. Mereka sedang melakukan pemanasan. Si Ayah berlari-lari kecil, diikuti putranya. 

Mungkin salah satu alasan saya kelak bila menikah dan memiliki anak akan melakukan hal tersebut. Menyenangkan berada di momen seperti mereka. Melihat perkembangan masa depan yang tidak dapat diraih, untuk dititipkan pada si anak. Bila akhirnya si anak menyukai dan memahami perasaan si ayah tentang impiannya.

Hidup di era sekarang sangat beruntung rasanya. Bayangan masa lalu saya yang kembali datang saat duduk menunggu rekan-rekan yang telat karena hari ini hujan dan jalanan macet. Saya tak pernah memiliki momen kebersamaan itu, saya sangat iri pada si jagoan kecil tersebut.

Saat bayangan itu menenggelamkan suasana sepi meski suasana sangat ramai, beberapa rekan datang juga akhirnya. Sepertinya mudah ditebak, hari ini mainnya agak lambat. Saya yang sudah sangat antusias main, sudah memasang sepatu.

Sambil duduk menunggu dan sedikit mengobrol bersama rekan-rekan, saya membayangkan menjadi si Ayah. Sini nak, begini seharusnya. Lakukan dengan gembira dan anggap ini adalah permainan.

Lihat anak saya, mungkin dalam hati sambil berlari memandang rekan-rekan futsal yang juga sedang pemanasan. Betapa bangganya saya hari itu menjadi ayah buat anak saya. Masa depannya saya pikir akan cerah dan saya harus berusaha lebih giat lagi untuk membawanya dan mengenalkan apa arti olahraga sebenarnya.

Tatapan saya berhenti ke arah mereka yang akhirnya bermain. Si anak tidak mengikuti pertandingan karena jatahnya memang bukan untuknya. Para pemain teman Ayahnya sama semua umur dan tingginya. Si anak hanya berada di luar lapangan dengan bola plastik. 

Saya yang sedikit mendekat sambil menunggu semua pemain lengkap, hanya berharap bahwa si anak tetap semangat. Teruslah menendang dan teruslah tersenyum. Ayah akan datang dan bermain kembali denganmu.

...

Pukul 8 malam akhirnya kami bermain. Satu jam lebih dari jam biasanya jadwal kami bermain. Padahal biasanya kami main dari jam 7 dan selesai jam 9. Cuma satu jam, tapi tidak masalah. Apalagi rekan-rekan futsal saya tetap datang meski waktunya sudah tidak bersahabat.

Merenung menjadi seorang Ayah, saya pengen sekali menikah pastinya. Tidak mungkin bisa seperti Ronaldo yang belum menikah sudah memiliki anak. Kecuali saya memiliki garis hidup seperti dia.

Buat Ayah-ayah muda yang sudah memiliki anak laki-laki di usia yang bisa diajak bermain dan berolahraga, ajaklah anak kalian. Sungguh itu membuat saya terkagum-kagum dengan Anda dan hormat sedalam-dalamnya. 

Masa anak-anak saya tidak pernah merasakan seperti itu. Mungkin ini hanya perasaan balas dendam mendalam yang saya rasakan dulu. Menjadi Ayah hebat adalah impian bagi anak-anak.

*Akhirnya kami bermain hanya 1 jam saja

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini