Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dewasa dalam Diam


[Artikel 18#, kategori cinta] Hari ini saya sangat antusias menjalani rutinitas. Bukan karena acaranya yang menarik atau konten apa yang bakal saya bawa ke blog, tapi perasaan yang sebentar lagi bertemu. Saya sudah tidak sabar menantikannya.

Seperti sebuah lirik lagu yang masih baku lalu disatukan dalam lantunan melodi. Sangat indah, menyenangkan dan antusias penuh harapan.

Pikiran itu menyelimuti perasaan seharian. Ada gairah sendiri yang tidak biasanya. Bertemu orang baru, tempat baru dan lingkungan baru, semuanya seolah menyatu.

Terlalu tinggi berharap

Lagi-lagi saya melupakan hukum alam ketika perasaan bahagia. Daya tariknya yang kuat ikut menarik perasaan sebaliknya. Buruk, tidak nyaman dan membuat saya stress.

Harapan hanyalah harapan. Hambatan yang menghalangi benar-benar tidak dapat diprediksi. Tapi anehnya, saya masih berharap. Padahal halangan itu bisa dijadikan momentum untuk kebahagiaan yang lebih besar berikutnya.

Tidak. Saya jatuh ke dalam harapan besar itu yang berharap perasaan ini tersampaikan. Saya benar-benar terlalu tinggi berharap.

Perasaan tidak nyaman

Akhirnya, perasaan itu tidak bertemu. Tidak menyatu. Tidak jadi bertemu dan memilih diam membisu. Alasan kuat yang digadang-gadang dapat bersatu, hanya angan-angan palsu.

Perasaan tidak nyaman datang juga akhirnya. Perasaan kesal bercampur rasa sedih rasanya seperti saya kenal. Sudah lama tidak merasakannya.

Lewat kata-kata yang dirangkai inilah, perasaan dipaksa keluar dengan harapan mentari saat bersinar lagi sudah menghapus perasaan gelap semalam.

...

Kedewasaan lagi-lagi dipertaruhkan. Tidak ingin menyakiti merupakan alasan untuk tetap menjaga hubungan tetap baik. Ini adalah proses, dan tentu ini masih panjang jalannya ke depan.

Saya harap, saya terus bisa melewati dan tidak menyakiti. Cukup sudah bertahan dengan idealis yang hanya membuat menangis.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini