Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pria Membosankan


[Artikel 6#, kategori Pria 32 Tahun] Kaitannya paling kuat adalah soal hubungan dengan pasangan. Apalagi menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih muda dan tidak banyak pengalaman soal asmara. Pengen rasanya cuek dan mengabaikan, tapi kadang takut juga andai ditinggalkan.

Ketika cinta bersemi, semua tampak lebih indah dari biasanya. Perlahan tapi pasti, waktu mengajarkan arti sebuah senyuman. Tidak peduli dewasa atau sedang menuju dewasa, cinta adalah anugerah yang terindah.

Namun, ada kalanya waktu tidak berpihak pada kedewasaan. Aktivitas yang sudah diprogram untuk tepat waktu, konsisten, bertanggung jawab harus memilih, membahagiakan dia atau memilih idealisme. Sudah benar-benar sulit diubah kebiasaannya.

Di saat itu, rasa bersalah menghantui. Apakah ini yang dinamakan pria membosankan? Diajak jalan, malah memberi alasan segudang. Dibilang rindu, seolah hari kemarin tidak terjadi apa-apa. Diminta waktu menemani, ada pekerjaan yang harus diselesaikan karena lama ditinggal.

Dia akhirnya memilih tertawa dalam batin dan pergi dengan alasan. Apakah pria yang menjadi pasangannya ini sudah benar masa depannya. Kebahagiaan kecil yang diminta saja, sulit diberikan.

...

Ketika awal berkenalan dan akhirnya jadian, seseorang memang seperti menjanjikan. Tawa, perhatian, mendengarkan dan berusaha melakukan yang terbaik ditawarkan.

Ketika dirasa sudah aman, pria tak berpikir akan menjadi pria membosankan buat pasangannya. Dia tidak peduli kesibukan apa yang dilakukan, ia selalu mengabarkan.

Sayang disatu titik, permintaan sederhana yang tak biasa kadang membuat perasaan terluka. Apakah aku salah? Apakah dia menginginkan? Atau ada hal lain yang ingin dibicarakan?

Hubungan ini tanpa diselesaikan bakal menjadi masalah. Wanita tidak ingin pria membosankan meski dari bibirnya bicara cinta setiap hari.

Sekali orang ketiga datang menawarkan hal seru, di situ penyelesalan menyambut kita.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini