Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dibalik Layar Launching Zenfone 2 : Buru-buru Pulang


Senyum kebahagiaan itu masih ada hingga pagi tadi. Meski harus merelakan pertandingan Liga Champions antara Barca lawan PSG terlewati, toh wifi di kamar hotel masih nyambung. Mengupdate beberapa aplikasi dari mainan baru yang baru dimiliki. Tapi tunggu dulu, ceritanya belum berakhir.

Seharusnya pekerjaan bisa terlesaikan seperti biasa. Namun semenjak beberapa hari menghadiri undangan dari pihak ASUS, pekerjaan sedikit terabaikan. Maklum, blogger itu keren. Apa-apa dilakukan sendiri.

Waktu terus berjalan di hari terakhir kepulangan, rabu, 22 April 2015. Hingga pengumuman dari telpon seorang rekan satu kamar memecahkan konsentrasi yang sedang asyik mendownload aplikasi buat si baru ini.

Oke, semuanya berjalan sesuai rencana. Jam 6 pagi, saya dan rekan saya yang tadi mendapat telpon harus segera menuju bus, sudah ada didalam bus. Jadwal pesawat sendiri adalah jam 9. Mengingat ibukota yang sedang ada acara KAA, sugesti macet sepertinya menjadi alasan untuk bergerak cepat.

Dan duarrr... bus yang berangkat jam 6 lebih ini ternyata diperuntukkan buat perwakilan dari Sumatra - Medan. Mereka dijadwalkan jam 8 pesawat sudah terbang. Dan saya, tidak bisa melupakan kejadian konyol ini dan menuliskannya disini.

Alhasil, kami nunggu di bandara hingga 2 jam. Soalnya, bus yang membawa kami tiba jam 7 kurang. Bayangkan, itu pagi banget dan perwakilan Semarang yang lain juga belum datang.

Bila tidak buru-buru begini, seharusnya saya bisa agak santai dan menikmati sarapan pagi di hotel. Pelan-pelan asal selamat tentunya selalu menjadi sugesti untuk orang Indonesia.

...

Akhirnya, saya harus menulis ini setelah berada di rumah (Semarang). Cerita ini punya sisi menarik buat saya. Setidaknya, sekarang saya sudah menulis dan bahagia ditemani si dia.

Salam blogger


Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger