Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dewasa Dalam Diam


[Artikel 32#, kategori Pria 30 Tahun] Diam bukan berarti abai. Bukan juga berarti pasrah. Dewasa dalam diam di usia kepala 30 ini, sangat melelahkan. Satu sisi ingin mengeluarkan jeritan di atas kepala, biar semua plong. Seperti merayakan lebaran setelah sebulan berpuasa. Satu sisi lainnya, mencoba melihat dari segala sisi dan memilah, ini yang terbaik. 

Setiap merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan bertemu seseorang, biasanya saya mulai defensif. Dalam pikiran berkata, saya tidak pernah membahas hidupmu. Kenapa kok hidupku yang selalu kamu bicarakan. Memang terkadang benar karna kamu peduli, tapi kamu tidak benar-benar tahu apa yang saya pilih. 

Hukum maklum juga berlaku dalam dewasa dalam diam. Jadi begini, ketika saya tahu orangnya memang sulit berubah. Bahkan sampai lebaran monyet, orang ini tetap begitu saja. Sulit dinasehati alias dablek, maka hukum maklum pun berlaku. Tidak mungkin setiap kali orang tersebut melakukan sesuatu yang salah harus saya beritahu agar diperbaiki. Kalau saya ngurusin orang seperti ini, saya cuma buang-buang waktu saja.

Diam itu menurut saya dewasa. Tapi ada juga yang memang orang yang suka disebut pendiam. Keduanya sangat berbeda meski sama-sama pendiam. Ada yang karna malu dan kurang percaya diri, dan ada juga yang sedang sekedar mengamati, bertindak dan berkata-kata sesuai porsinya.

Dulu saya bukan orang yang termasuk pendiam. Malah saya lebih menyukai suasana ramai dan membuatnya terlihat ramai. Entah karna dibuat-buat atau sengaja, agar mereka tahu bahwa hidup itu indah bila dijalani senyum dan tawa.

Sekarang rasanya itu tak berarti. Saya sempat berpikir bahwa mungkin keadaan saya saja dan sikon yang membuat saya lebih menenggelamkan diri pada keheningan. Ternyata tidak. Saya benar-benar melakukannya. Cuek, abai dan sibuk pada diri sendiri (memilih konsen pada sesuatu, semisal acara).

Saya harap, seorang yang pendiam jangan dianggap orang yang sombong atau tidak menghormati. Bisa saja, ia seperti saya. Atau juga, ya memang orangnya pendiam.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini