Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo September 2021

[Artikel 95#, kategori catatan] Tahun ini bulan Agustus terasa menyesakkan. Dihajar sana sini, hanya untuk sebuah kenyamanan. Pengorbanan seolah dilupakan layaknya pahlawan yang tidak menerima tanda jasa. Halo September, saya harap segera bangkit.

Futsal semalam masih terasa hingga siang. Badan lelah dan berkegiatan rasanya malas sekali. Tiga jam, sungguh melelahkan.

Bulan September saya bertekad move on. Bahkan sempat berpikir untuk mencukur rambut model cepak. Tapi duitnya masih belum dipikirkan, karena anggarannya cukup untuk main futsal dan kebutuhan sehari-hari.

Biarkan saya bebas

Pagi ini dia menelpon seperti biasa. Saya sengaja menyuekinnya karena tekad saya dari semalam untuk move on.

Saya sudah ikhlas melepaskannya. Kecewa pun tak banyak berarti. Saya harap dengan pasangan barunya, dia lebih baik lagi.

Sesaat sebelum menulis halaman ini, saya pergi ke belakang (membaca artikel lama) ke bulan September 2020.

Saya sering mencatat perjalanan kami dan ternyata setelah ia pulang ke Indonesia, semua yang saya anggap cinta waktu itu sekarang adalah suatu pemaksaan.

Memang salah saya dan baru sadar sekarang mengapa ia begitu mudah lepas dari genggaman. 

Sudahi sajalah, saya ingin bebas sekarang. Entah bisa atau tidak. Yang penting saya sudah mengutarakannya di sini.

Sadtember

Trending topik Twitter menarik perhatian awal bulan September dengan kata Sadtember. Memikirkan lagi bulan Agustus, saya juga tidak ingin menjalani bulan September dengan kesedihan.

Apalagi memikirkan dia yang selalu berduaan. Dilema sebagai warga cancer yang mengutamakan perasaan.

Dulu mungkin baik-baik saja meski berstatus mantan jadi teman. Sekarang sudah tidak ingin. Tujuann dia sudah berbeda dari awal ia ingin serius mencari pasangan.

Dilema lainnya adalah tentang keluarga yang tidak pernah terpikirkan saat masih berstatus mahasiswa, kini di usia yang tidak muda lagi, memikirkan mereka harus dikasih porsi lebih besar.

...

Mengutip dari trending topik, lupa akun siapa yang saat dicari sudah hilang. Akun tersebut menuliskan begini

Teruntuk Agustus
Terima kasih untuk segala kebahagiaan dan terima kasih telah mengajarkan arti kesabaran dan keikhlasan yang sesungguhnya.

Dan awal bulan September, semoga ada kebahagiaan menanti dan pandemi segera berhenti.


Amin!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger