Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Indonesia Gagal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

[Artikel 58#, kategori sepakbola] Bahkan, masuk Piala Dunia lewat jalur tuan rumah pun kita gagal. Kalimat tersebut saya kutip dari postingan di Twitter. Sedih rasanya kala mimpi itu akan tergapai, bahkan sudah di depan mata, malah buyar hanya dari kata-kata yang merugikan.

Topik panas ini terjadi menjelang akhir bulan Maret. Rencana besar mempromosikan Indonesia lewat kancah sepak bola, terutama talenta-talenta muda, harus pupus begitu saja.

Perbincangan panas terus bergulir seputar kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 di media sosial. Khususnya Twitter, sangat-sangat parah.

Mengubur mimpi

Bernafas sejenak membayangkan ke belakang saat saya pernah bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional. Impian yang terus digenggam dengan semangat kerja keras terus menerus di lapangan.

Sayangnya, impian itu harus dikubur dalam-dalam karena dirasa semakin sadar bahwa itu sulit dilakukan. Karir saya mentok sebagai pemain semi pro yang pernah mencicipi bangku cadangan saat membela tim Ibu Kota Kalimanta Timur yang saat itu sedang berlaga di divisi pertama (bukan liga utamanya).

Saya merasakan betul bagaimana rasanya mimpi yang terkubur meski sudah bekerja keras. Sedih, menangis dan seolah dunia tidak adil dengan yang sudah saya lakukan.

Begitu juga pemain muda timnas yang mencoba menggapai tangga yang belum pernah digapai pemain Indonesia lainnya di era modern, yaitu ajang Piala Dunia.

Tidak sekedar bermain dengan melawan banyak negara dan menunjukkan kekuatan tuan rumah, tapi juga menarik perhatian pemerhati sepak bola luar negeri yang dapat membawa mereka pergi ke klub-klub di Eropa atau setidaknya, sesama benua Asia.

Noda yang tidak akan mudah dilupakan

Sejarah akan mencatat kegagalan ini sebagai sebuah momen yang tidak akan mudah dilupakan. Bagaimana aktor-aktor yang terlibat di dalamnya dan perjalanan yang menyakitkan bagi sebagian orang.

Sabar, mungkin hanya itu yang bisa dikatakan sekarang ini. Percayalah, kesempatan itu akan datang lagi. Siapa tahu, kan? Kita hanya perlu terus bertahan karena hari ini tidak akan sama dengan hari esok, lusa dan masa depan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini