Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Hari Pertama Puasa

[Artikel 113#, kategori futsal] Ketahuan kan nggak sholat Tarawih. Saat orang-orang berlomba mencari pahala, saya malah bermain bola. Berkurang sudah jika begini penilaian calon istri yang lihat kelakukan calon suaminya. Pasrah 😅

Malam ini, Kamis tanggal 23 Maret, lapangan tampak sepi dari minggu sebelumnya. Mungkin efek awal puasa, makanya orang-orang juga masih menahan diri.

Meski sebagian besar rekan futsal saya adalah koko-koko (Keturunan), suasana tim kami juga sedang sepi. Main hari ini hanya pas 2 tim saja (1 tim ada 6 pemain).

Mau gimana lagi, mereka kebanyakan pekerja. Mungkin ada masalah sama manajemen waktu atau memang sedang tidak bisa karena keperluan tertentu.

Selama bermain, saya sendiri juga lebih sedikit bergerak karena menjaga tubuh yang baru selesai buka puasa sebelumnya.

Futsal hari pertama puasa tidak buruk juga kali ini. Meski saya membenci sikap orang-orang yang berada di lapangan yang sukanya menyalahkan. Padahal dirinya sering salah. Kenapa tidak diam saja dan mengoreksi diri.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini