Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Futsal Hari Kamis: Sparing

[Artikel 138#, kategori futsal] Tidak menyangka akhirnya bisa melawan tim lain. Padahal tim ini hanyalah buat senang-senang karena diisi para veteran yang orangnya tidak ahli dalam bermain. Kamis terakhir di bulan Maret, kami diajarin gimana bermain futsal yang tidak sekedar hanya bisa menendang saja.

Kamis tanggal 29 Maret kemarin, tim mendapatkan lawan yang tangguh. Kami seakan diajarin gimana main yang efektif dan terus berlari tanpa rasa lelah. 

Dari segi umur, tim lawan menang segalanya karena mereka anak muda semua. Memang kami juga sebagian masih ada yang muda, tapi muda mereka berbeda dengan kami yang nendang bola saja bisa lepas.

Tim pertama yang turun sepertinya bisa ngimbangin tim lawan. Namun saat bergantian, tim yang saya ikuti sulit berkembang. Mengejar bola seakan tidak berarti, meski saya sedang tidak menjadi kiper karena ada pemain lain yang menjaga gawang.

Saya sendiri akhirnya kembali ke posisi kiper usai tim berganti. Saya jadi ingat pertandingan Leverkusen yang karakternya kuat di bawah asuhan Xabi Alonso. Timnya kuat, bola bergerak tanpa henti, pemain mencari ruang dengan kombinasi satu dua.

Yah, kami dibuat separah itu menghadapi permainan dengan gaya tersebut. Tim yang rasanya bukan sekedar bersenang-senang seperti kami untuk sekedar mengisi waktu dan buang keringat.

...

Kami memang kalah dan saya menderita juga karenanya. Meski sukses menepis beberapa peluang yang dilancarkan tim lawan, kesalahan tim sendiri juga membuat gawang yang saya jaga mudah dibobol mereka.

Sebuah pengalaman yang berharga kali ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini