Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pertama Kali Mengalami Gempa di Kota Semarang

[Artikel 34#, kategori Semarang] Semenjak tinggal di Kota Semarang dari tahun 2007, ini adalah pertama kalinya merasakan guncangan gempa di dalam kamar sendiri pada hari Jumat kemarin (22/3). Terkejut juga, sih! Sampai-sampai memikirkan apa yang harus dibawa keluar (laptop) dari kamar.

Sejak pagi hari, berita tentang gempa yang terjadi di wilayah Jawa Timur, khususnya Tuban begitu ramai jadi perbincangan di lini masa X. Jika melihat jaraknya, tentu tidak akan merasa khawatir. Beberapa kali, bahkan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang tidak berdampak apa-apa.

Namun kali ini berbeda. Ada 2 kali guncangan rupanya. Yang pertama entah kenapa saya tidak merasakan langsung guncangannya, tapi kepala saya mendadak pening. Lalu yang kedua, ini benar-benar terasa. Monitor yang tidak terpakai di meja kerja saya bergoyang terus. Memang kurang dari 1 menit, tapi itu memberi kesan mengkhawatirkan.

Apalagi posisi saya sedang tidur dan mendadak bangun. Beberapa barang juga ikut bergerak meski skalanya tidak sebesar monitor.

Kekhawatiran saya coba terjemahkan dengan keluar rumah. Namun yang terjadi di lingkungan sekitar, tetap hening. Tidak ada suara atau orang-orang panik seperti saya. Adem ayep saja sekitar rumah. Haha..kesel sendiri jadinya. Padahal lagi gempa.

...

Sebuah pengalaman yang seakan mengajari bahwa jika kelak terjadi lagi, harus bisa melihat situasinya sedemikian rupa. Tapi pikiran saya entah kenapa masih ingin menyelamatkan perangkat elektronik saya, seperti laptop dan lainnya.

Saya memikirkan tentang bagaimana bila ini benar terjadi dan laptop yang saya pakai akan berguna kelak.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini