Catatan

šŸ“Œ PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo, Juni 2024

[Artikel 135#, kategori catatan] Ada banyak kekhawatiran yang saya alami di bulan Mei. Syukurlah, bulan sudah berganti. Berarti ada harapan baru meski juga akan ada tantangan baru juga. Saya harus siap, apapun kondisinya.

Selamat datang bulan Juni, bulan keenam. Sudah setengah tahun berjalan tahun 2024. Waktu terasa cepat? Tidak-tidak. Waktu malah sangat kurang buat saya karena tiap bulan ada yang saya harus bayar. Oh ya, cuaca Kota Semarang sangat cerah hari ini. Apalagi akhir pekan. Ya, tanggal 1 Juni jatuh pada hari Sabtu.

Tekad

Saya sudah memikirkannya secara mendalam. Saya akan keluar dari rumah di mana saya tinggal hingga hari ini. Namun itu tidak sekarang. Target saya di umur 40 tahun atau 2 tahun dari sekarang.

Saya tak pernah memikirkan akan keluar dari rumah ini sebenarnya. Apalagi pekerjaan saya bersama dotsemarang masih seputar Semarang.

Namun keadaan semakin ke sini sudah berubah. Ada perasaan tak nyaman yang saya rasakan. Tidak peduli betapa lamanya saya tinggal di sini. Tetap akan kalah dengan status siapa penghuni aslinya.

Saya merasa sedih. Bahkan, tak tahu apa yang akan terjadi jika pergi nanti. Kemana saya akan tinggal dan bagaimana nasib dotsemarang.

Jangan sakit

Mungkin kamu akan setuju apabila jadi saya yang hidup hanya mengandalkan keberuntungan semata. Uang di dompet nggak ada, tabungan apa lagi dan malah berharap belas kasih orang lain.

Bulan Mei benar-benar jadi pukulan keras ketika maag saya kambuh. Bukan sekali, tapi dua kali. Yang tambah buat menderita adalah stok makanan habis. Padahal saya butuh nasi saja buat makan sehari-hari.

Entah kenapa saya apes sekali. Maka dari itu, ketika masih miskin gini, tolonglah jangan sakit. Bukan hanya mengganggu aktivitas, tapi juga tidak akan ada yang menolongmu di samping.

Juni, tolong rawat saya. Biarkan saya menjalani hari-hari penuh dengan semangat dan mental kuat. Saya ingin kedua modal tersebut menjadi alasan kuat untuk saya bisa mendapatkan uang.

Uang memang bukan segalanya. Tapi dengan uang, saya bisa beli segalanya. Bahkan sebuah pertemanan dan kepercayaan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini