Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kadang Iri dengan Mereka (Bloger)


[Artikel 44#, kategori motivasi] Motivasi saya ngeblog saat ini merupakan buah dari keyakinan saya dimasa lalu yang berharap bloger bisa dijadikan sebuah profesi. Meski ada yang menganggap sampingan dan digarap serius dengan sebuah harga domain, saya tetap berusaha bertahan. Membunuh waktu, memeras keringat dan berinisiatif menelusuri jalan yang kini sudah sangat ramai.

Namun betapa hebatnya saya mengarungi perjalanan dengan tetap menjunjung sikap rendah hati, terkadang sisi manusia saya datang dengan sendirinya. Saya iri dengan mereka. Masa lalu kami sama, pemilik blog, namun jalan kami sudah berbeda. Saya terus berjalan tanpa henti, sedangkan mereka beristirahat dalam diam tanpa kata. 

Anehnya, tempat yang kami tuju ternyata sama. Mereka duduk di sana sambil khidmat melihat, kami dibayar dengan harga yang sama. Rasanya saya ingin marah dan menyerah. Lalu, apa yang salah dengan saya. Mereka yang lama tak terdengar dan terlihat, tanpa update secara konsisten pun, bisa berada dalam satu ruangan yang sama. Apakah ini adil, pikiran saya berkata yang diwakili sosok diri saya berwarna merah mirip iblis.

Saya lupa sepertinya jika saya manusia. Selama ini mungkin saya sudah terlalu jauh berjalan tanpa melihat kebelakang. Sebagian menganggap saya hebat, sebagian lagi mungkin menganggap saya konyol. Saya seperti ditampar anak kecil dan disuruh berhenti. 

Saya lupa tujuan awal saya dan misi yang dibawa. Semoga pelajaran hari ini menyadarkan saya bahwa saya belum benar-benar berjalan di jalan yang saya anggap benar. Masih banyak sudut pandang lain yang harus saya kritisi untuk membuat saya bangkit dan bangkit lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini