Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Apakah Sejarah Akan Berulang Kembali?


[Artikel 46#, kategori catatan] Melihat bagaimana orang-orang hijrah dalam sebuah perusahaan teknologi, membuat saya khawatir. Apakah kejadian seperti yang dialami Blogdetik kembali berulang?

Mereka (Blogdetik) bukan saja berhasil menyatukan berbagai kepala (bloger) dari setiap kota di Indonesia, tapi juga sangat dicintai. Kini, saya berada dalam situasi dilematis.

Saat ini saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang saya kenal dalam industri teknologi berpindah gedung meski masih satu kota. Tawaran yang menggiurkan memang bukan jadi alasan utama, meski saya tahu itu kebenarannya. 

Mereka hijrah. Kata bagus untuk menghormati orang-orang yang saya hargai. Mereka tetap ada, meski akan tak bersuara seperti biasanya. Mereka menjadi lebih baik, dari sisi jabatan hingga masa depan.

Lalu, bagaimana dengan saya yang mempertahankan idealisme untuk sebuah kecintaan? Apakah saya juga akan hijrah, bila melihat banyak bloger yang tiba-tiba menjadi vloger atau Youtuber. 

Ah, tidak mungkin. Saya tahunya menulis saja. Saya sangat kurang di sana dan ini bukan sebuah pembenaran. 

Saya harap tidak ada gulung tikar kedua 

Yang saya bicarakan adalah tentang komunitas. Manis asinnya komunitas sudah banyak yang saya rasakan. Hanya saja kali ini perasaan saya kembali diingatkan bagaimana loyalitas saja tidak cukup untuk terjun. 

Kepergian pada punggawa komunitas yang berperan penting diawal seolah tugas yang dikerjakan sebagai tanggung jawab saja kepada atasan. 

Ketika akhirnya mereka pergi, dan berganti, saya yang terlanjur memberi hati sudah merasa gagal. Dejavu? 

Saya harap ini tidak terjadi.  Kami loyal memang karena pemberian. Kami berkomitmen memang sebagai bentuk rasa hormat dan balas jasa. Dan kami merasa sedih, itu karena kalian sudah membekas di hati kami.

Gambar : Ilustrasi

..

Saya menyaksikan sendiri bagaimana dalam kurun waktu yang belum genap setahun saya bertemu seseorang yang awalnya di perusahaan A, tiba-tiba saat mengadakan roadshow ke Semarang, ia sudah di perusahaan B.

Saya tidak melihat ini sebagai keburukan. Saya hanya khawatir dengan kelanjutan grup yang saya ikuti dengan nama sebuah perusahaan. Takutnya masalah sama kembali terulang. 

Kita tidak tahu masa depan, siapa tahu diakusisi. Berganti pemimpin atau komunitas kurang greget lagi. Sepertinya saya harus mempersiapkan diri saya lagi untuk lebih menerima apa yang terjadi nantinya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini