Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mereka Berbicara Tapi Mereka Pergi Begitu Saja


[Artikel 45#, kategori catatan] Lagi, menaruh harapan tinggi pada seseorang yang berakhir sama seperti sebelumnya. Seperti bicara politik, selalu manis di awal dan kemudian berakhir tangisan. Itu bila kalah pilihan. Sedangkan saya, merasa sedih juga karena ditinggal pergi akhirnya.

Selalu menyenangkan mendengar seseorang bicara harapan, tujuan dan masa depan. Ia punya sesuatu yang bisa saya titipkan dan saya rasa, ia butuh dukungan. Saat dukungan datang, memang pekerjaan berjalan lancar dan bahkan sesuai keinginan yang selama ini belum tercapai.

Namun saat alam semesta mendukung, saya kembali disadarkan tentang arti manusia hidup di muka bumi. Mereka butuh hidup untuk membuat dunia sekitarnya bahagia. 

Saya? Hanya bisa menyaksikan layaknya matahari di siang hari. Apakah saya bersinar terang atau bergantian dengan si bulan dan seperti itu dilakukan setiap saat.

Orang-orang hebat yang datang dan pergi

Hijrah ke Semarang adalah kesempatan berharga yang tak mungkin saya tukar dengan apapun. Saya banyak bertemu banyak orang hebat.

Mereka sama seperti manusia pada umumnya. Yang membedakan hanyalah mimpi dan keinginan mereka saja. Karena mereka sama seperti manusia, mereka mudah terbuai. Orang-orang hebat datang dan pergi.

...

Saya bingung harus mempercayai siapa lagi. Saya sudah berjalan terlalu jauh memikul banyak mimpi yang belum terwujud. Sial, mungkin bisa saya katakan seharusnya.

Mengapa saya harus mendengar mereka berbicara tentang mimpi mereka. Ketika mereka berhenti bermimpi dengan dalih apapun, saya sudah jadi korban mimpi mereka yang berharap mereka mewujudkannya.

Artikel terkait :

Komentar

  1. Mereka butuh hidup untuk membuat dunia sekitarnya bahagia. itu jawabannya. Tapi mereka tidak akan meninggalkan mimpinya, nggak ada yang tahu kan kalau tengah malam bahkan mereka masih sibuk membalas email untuk bisa mewujudkan mimpi dibalik pekerjaanya sekarang.
    Mereka hanya berusaha untuk bisa mengambil semua kesempatan yang ditawarkan oleh alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka hanya bermimpi, dan tak pernah mewujudkannya. Mereka bahkan tak kembali.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini