Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

[Futsal] Mengalahkan Pemain Fantasista


[Artikel 11#, kategori futsal] Pemain yang paling banyak berimprovisasi ini tidak mudah dikalahkan. Sekali dibendung, ia tetap saja bangkit dan terus mengecoh lawannya. Cara terbaik mengalahkan pemain yang identik dengan nomor 10 ini ialah mematikan rekannya. Karena tanpa rekan, ia tak memenangkan pertandingan meski ia pandai dengan trik sepakbola-nya.

Jumat malam (13/7), posisi saya kali ini lebih banyak menjadi pemain belakang. Saya berhasil mematikan semua bola yang mengarah ke gawang tim saya. Termasuk penyerang ganas yang tak kenal lelah dari kubu lawan. Saya pikir ia sangat frustasi malam ini.

Giliran pergantian seluruh tim, saya selalu ikut istirahat. Maklum pemain futsal yang cuma 5 pemain dalam satu tim, sudah ditunggu rekan lainnya yang juga jumlahnya sama. Dengan waktu permainan (baca sewa) selama 2 jam, giliran main sangat penting.

Tiga kali main, saya masih menjadi pemain belakang. Saya benar-benar senang dengan gaya permainan saya kali ini. Meski tak bisa juga membendung pemain lawan terus mencetak gol juga, fisik saya aman kali ini dari rasa lelah yang berlebihan.

Bagian terakhir saya bermain, saya tetap melanjutkan tanpa berhenti meski tim lain sudah diganti. Dilihat dari materi pemain, sebenarnya saat saya disuruh menjadi penyerang, saya baik-baik saja. Tapi saya mulai khawatir saat pemain fantasista beraksi dengan partnernya. 

Bukan saja berkali-kali menaklukkan penjaga gawang, namun juga berhasil mengacak area tim yang saya ikuti hingga waktu usai.

Saya ingin mengambil alih posisi pemain belakang, namun sudah ada yang mengisi. Dan saat saya terus melihat pemain fantasista mengacak-acak, saya berpikir sebaiknya saya menjaga rekannya.

Ya, berhasil. Pergerakan fantasista yang mengagumkan seolah terasa hambar. Liukan, gerakan yang tidak mudah ketebak dan jelajah area yang super luas seakan berhenti. Tim kami bisa mengatasi meski tetap saja ia mampu melewati. 

Begitulah cara mematikan pergerakannya. Mudah sebenarnya, hanya saja kadang saya atau lainnya lupa bagaimana membaca aliran bolanya. 

Saya jadi ingat Messi yang harus pulang dan mengubur impiannya juara Piala Dunia tahun 2018 ini. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini