Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mau Nikah? Sudah Punya Rumah?

Gambar : google

Tulisan ini tergelitik dari sinetron sitkom Preman Pensiun 2 yang kembali tayang, dimana adegannya pada waktu itu membahas soal ingin mengajak menikah? Jadi kepikiran saja bila kedepan mau ngajak seorang wanita menikah namun belum punya rumah? Ada-ada saja..

Saya inginnya menikah diusia 30 tahun. Umur segitu untuk pria memang tidak tua-tua amat meski sebagian besar teman-teman saya sudah banyak yang menikah dan bahkan sudah punya anak.

Urusannya jadi ribet bila usia tahun depan sudah memasuki usia kepala 3 buat saya. Pacar aja belum punya, gebetan aja pada pergi ninggalin, dan mantan yang paling mengerikan. Mereka seperti terperdaya kata-kata motivasi dari om Mario bahwa jauhi mantan bila tidak ingin sengsara.

Waktu yang tinggal sedikit ini tidak mungkin dong mengatakan bahwa memiliki rumah itu gampang. Apalagi pekerjaan untuk seorang yang ngakunya 'blogger'. Dibayar karena job bukan mendapat gaji bulanan yang membuat tenang, setidaknya punya dana pensiun bila jadi PNS.

Enak itu jadi orang yang punya duit dan orang tua yang sudah merencanakan masa depan anak-anaknya kelak saat dewasa. Beli rumah disana untuk si A dan disini untuk si B. Dan berharap anak-anaknya akan bahagia tanpa repot bersusah payah.

Ini berbeda dengan kehidupan saya yang 180 derajat yang hidup mandiri. Membayangkan ngumpulin uang ratusan juta juga buat beli rumah tapi harus memikirkan juga bagaimana biaya buat pernikahan. Meski rumah dapat dicicil, jadi kasihan juga wanita yang bersedia hidup dengan saya haha.. *sorry*

...

Entahlah, setidaknya film yang saya tonton jam 5 subuh (versi ulangnya) mengingatkan tujuan lain soal masa depan dengan calon pasangan. Apapun bentuk rumahnya, saya paling demen kalau tinggal mandiri.

Jadi tersindir sendiri kalau kehidupan sekarang masih kurang membahagiakan dari segi ekonomi. Semoga ada jalan lain menujur Roma. Lho? :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini