Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kendala Bermimpi Besar Terkadang Masalahnya Ada Pada Diri Kita Sendiri

Gambar : Google

Semua orang bisa bermimpi. Dari yang sederhana hingga paling besar. Saya sendiri memiliki mimpi yang sederhana. Tapi entahlah menurut kalian, ini besar atau biasa saja. Menjadikan blogger sebuah profesi adalah bagian dari mimpi saya yang ingin berguna bagi nusa dan bangsa. Tunggu dulu, bukan mimpinya yang kurang menarik. Tapi masalahnya, bisakah kita mengalahkan diri sendiri?

Akhirnya saya harus mengucapkan selamat datang kepada Juni, bulan keenam dari separuh jumlah bulan dalam satu tahun. Waktu saya untuk bertahan semakin sempit saja. Ya sih, sebagian mimpi sepertinya sudah berjalan tepat. Hanya saja saya malah terkendala dengan masalah diri sendiri.

Taklukkan diri sendiri

Saat semua berjalan sesuai passion, saya harus berhadapan dengan masalah orang lain yang harus saya ikut urusin juga. Ibaratnya kompetisi balap mobil yang isi penumpangnya dua orang, saya harus segera menyelesaikan balapan hingga akhir bersama rekan saya.

Sayangnya, rekan saya ini lagi-lagi kurang memahami maksud dari apa yang saya harapkan. Memang kendaraan yang digunakan sudah benar. Tapi saya tak mungkin membawa rekan dalam satu kendaraan yang punya masalah pribadi semisal mabuk perjalanan. Ini membuat perjalanan saya semakin terhambat.

Sebagian orang memiliki kemampuan luar biasa. Namun untuk mengembangkannya, tetap dibutuhkan diri sendiri untuk menaikkan level dari kemampuan yang dimiliki.

Bereskan masalah yang ada pada diri sendiri dulu. Baru orang lain kemudian lingkungan dan negara menjadi tujuan. Kadang ini yang membuat seseorang berhenti bermimpi karena telalu banyak masalah pribadi yang belum terselesaikan.

...

Saya sekarang masih membutuhkan rekan untuk menemani saya mengejar mimpi-mimpi yang belum terselesaikan. Namun bila keadaannya tidak berubah, mau tidak mau saya harus meninggalkan juga pada akhirnya.

Ini bukan soal hubungan baik dan buruk terhadap sesama. Hanya saja, sebuah mimpi rasanya yang dapat menyelesaikan hanya orang yang memiliki mimpi saja.

Semua sudah diberi kesempatan untuk belajar dan menangkap peluang. Bila tetap terbuang, ya tolong maafkan saya. Lagi-lagi saya akan jadi orang jahat untuk tidak mempertahankan orang yang baik disisi saya.

Mari hadapi kenyataan..

Komentar

Postingan populer dari blog ini