Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Sukses Juga Naik Bis Trans Ke Bonbin Semarang



Ceritanya sederhana, saya mau datang ke sebuah acara yang sudah saya jadwalkan jauh-jauh hari. Masalahnya jadi ribet saat tahu alamatnya yang begitu jauh. Bisa dibilang diluar Semarang (wilayah sepeda saya hanya perkotaan). Dari situlah saya tak ingin menyerah begitu saja.


Kamis pagi (4/6), jam menunjukkan pukul 7 pagi lewat 30 menit. Posisi saya sudah berada di halte trans yang berada di jalan Majapahit. Tujuannya, seperti yang saya sebut diatas.

Lumayan lama nunggu bis trans datang. Sekitar 25 menit lebih. Semarang sudah panas aja cuacanya untuk membuat saya sangat gugup datang ke acara. Bisa telat nih.

Untungnya, kesabaran membuahkan hasil. Bis yang ditunggu datang juga. Suasana adem dari dalam bis cukup melegakan saya sambil membayar tiket bis sebesar 3.500 rupiah.

Ini adalah pengalaman pertama naik bis trans ke arah Mangkang. Kalau hanya Simpang Lima atau Pemuda, saya dah biasa. Tapi saya tak mau melanjutkan naik bis saat ini. Naik sepeda lebih menyenangkan tentunya.

Saya masih ragu-ragu untuk tidak bertanya tentang arah bis ini kepada petugas. Ternyata rute bus yang saya naiki memang arahnya menuju Mangkang. Ingat, bus besar berwarna abu-abu berlapis biru dan arah dari Penggaron memang memiliki rute wajib ke Mangkang. Benar-benar baru tahu.

Beda lagi dengan bis trans berwarna merah yang pasti tujuannya Kota Lama dan Banyumanik. Arah atas semua pokoknya. Tidak mengherankan bila naik trans hanya modal santai dan duduk tenang sampai tujuan.

Beberapa penumpang silih berganti turun. Dari mulai yang banyak hingga yang dikit semua seperti seleksi alam. *Mirip tujuan hidup mungkin, yah.

Oh iya, saya lupa kalau saya adalah jenis penumpang yang suka mabuk perjalanan. Entahlah kemarin itu tidak terasa sama sekali. Beruntung juga acara belum dimulai saat saya tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini