Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Review Film Manjhi The Mountain Man (Bollywood)
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Pernah dengar seorang motivasi bicara soal orang yang menghancurkan gunung bertahun-tahun dan ia diketawain karena keras kepalanya tersebut. Bila pernah, mungkin film ini bisa sedikit menambah rasa penasaran kita tentang cerita motivator tadi. Film ini berdurasi kurang dari 2 jam.
Sepertinya waktu siang saya lebih banyak dihabiskan nonton film online streaming. Selain sulit berkonsentrasi diatas jam 12 siang, tubuh saya sudah begitu lelah bila harus berada di depan laptop.
Kisah nyata
Ini film diangkat dari kisah nyata yang terjadi di India sana. Seorang pria yang punya kehidupan bahagia, harus bernasib naas karena kehilangan istri tercinta yang terjatuh di gunung yang menjadi inti cerita ini.
Yang menarik film ini adalah para pemain yang tidak terkenal. Sungguh itu membosankan sebenarnya. Tapi karna tertarik cerita sejarahnya, saya tahan dulu. Para pemain setidaknya sudah berusaha.
trailer film Manjhi The Mountain Man
Film ini mengambil alur tahun 1960-an, sebelum dan sesudah. Dan orang tersebut, aslinya meninggal pada tahun 2007. Beberapa foto kisah nyata dan syutingnya menjadi pelengkap tersendiri bagi film ini.
Konflik
Kisah Asmara jadi bumbu kuat diantara konflik yang ada. Adalah Nawazuddin Siddiqui yang tinggal di sebuah desa kecil punya cerita asmara dari masa kecilnya juga dengan Phaguniya. Setelah besar, Phaguniya ingin dinikahkan. Waktu itu perjodohan masih sangat kental.
Nawazuddin yang super nekat berhasil membawa pergi Phaguniya saat lamaran. Pada akhirnya mereka kawin lari dan memiliki 2 anak. Kisah asmara mereka memang sederhana tapi benar-benar menjadi pelengkap cerita utamanya.
Masalah kasta juga menjadi persoalan di negeri India pada waktu itu. Si Kaya yang berkuasa dan si Miskin yang teraniaya. Beberapa orang yang memanfaatkan keluguan Nawazuddin karena berusaha menghancurkan gunung, termasuk dalam bidang politik. Konfilik berputar diantara kejadian tersebut.
Alur cerita
India sepertinya selalu membawa alur maju mundur untuk film-filmnya. Begitu pula film Manjhi The Mountain Man yang disutradai oleh Ketan Mehta. Awalnya sudah dibawah ke alur utama, lalu mundur jauh dari awal. Setelah itu, barulah film bercerita sebenarnya dengan alur maju.
...
Saya membayangkan film ini diperankan para pemain kelas atas dan sutradara yang lebih handal. Saya yakin masih banyak yang bisa dieksplore dari cerita ini.
Tapi untuk film ini saya akan memberi nilai sudah cukup baik. Performa para pemain masih kurang diangkat tapi secara keseluruhan sudah dapat mengalir untuk enak ditonton. Soal lagu-lagu yang biasanya tidak terlalu banyak tapi ada beberapa.
Anggap saja saya ingin memberi rating, dan saya akan memberinya nilai 7 dulu. Kalau yang mau nonton streaming full, bisa DI SINI nih (cari-cari dapat juga).
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...
[ Ini adalah artikel ke-10 kategori Cinta ] Saya menaruh postingan ini dari pengalaman saya sendiri, jadi tidak semua pria memiliki sifat sama seperti saya. Beberapa hal mengenai wanita yang dapat membuatnya sedih maupun tersenyum, terkadang pria menyukainya. Tapi kadang pula, pria dianggap baperan. Wajar saja sih.
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Komentar
Posting Komentar