Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kue Pukis dan Kemasan Ala Banyumas


[Ini adalah artikel keenam kategori kuliner] Pernah makan kue Pukis seperti gambar di atas? Satu tempat seperti itu di tempat saya harganya 7.500 rupiah sekarang. Postingan ini dibuat bukan untuk memberitahu cara membuatnya. Penasaran, kan?

Masih ingat postingan saya soal kue Bingka? Post yang saya buat akhir bulan kemarin. Saya melanjutkan postingan dari sana karna kuliner ini satu paket pas ada di rumah. Sayang aja dibuang (postingan), terutama kemasan yang dibuat. Sangat berbeda dengan gambar di bawah ini.


Lalu, bandingkan dengan gambar berikut ini. 




Bagaimana, beda kan? Ya iyalah *nyelekit. Pasti beda. Pukis Banyumas ini legend lagian. Dan pasti punya pengalaman di atas rata-rata. Setidaknya punya rumah produksi atau pabrik dengan banyak pekerja.

Bandingkan dengan kue Pukis yang satunya, itu kan yang jual di jalan-jalan. Yang buat 1 orang meski terkadang gantian karna kena shift-shift-an.

Tentang kemasan

Kemasan Pukis yang pertama terlihat sederhana dan bahannya mudah didapat di toko-toko. Karena pasarnya hanya disekitar alias satu kawasan dan berada di kerumunan masyarakat yang berbelanja sayuran dekat rumah, kemasan seperti itu sepertinya sudah bagus.

Ketimbang nggak dikasih bungkusan kotak, kita pulang bawa gitu atau disuruh bawa rantang dari rumah. Pasti tambah ribet. Berbeda dengan kemasan Pukis Banyumas yang sepertinya sudah merambah banyak kota di Indonesia.

Tampak lebih menarik dan punya cerita sejarah sebagai kekuatan brand image. Biasanya kalau sudah buat kemasan begitu, pasarnya diperuntukkan buat oleh-oleh. Seperti yang saya dapatkan barengan kue Bingka.

...


Kue Pukis merupakan jajanan tradisional yang sepertinya tiap daerah pasti ada yang menjualnya sekarang ini. Tidak heran saat kita pergi kemana, pasti ada aja.

Saya melihat di dekat rumah yang jual pria paruh baya. Beberapa kilomentar, sepanjang jalan ada juga yang jual Pukis (jalan Gajah).

Meski memiliki bentuk yang sama hanya berbeda sedikit cita rasanya, kemasan adalah hal penting dalam sebuah produksi. Meski begitu, kita juga harus melihat pasar yang dituju. Apakah kalangan wisatawan yang datang ke kota kita atau pengunjung dekat rumah yang tak perlu dandan rapi.

Tiba-tiba ibu hamil lewat.... seksi man!

Ujung-ujungnya malah bahas soal marketing, padahal mau bahas yang agak santai. Haha... Intinya dari postingan ini, saya suka yang Pukis Banyumas. Udah itu saja.

*Tapi kalau pas pengen, tetap beli yang dekat-dekat aja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini