Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Visi yang Kadaluarsa



Negeri ini (baca; kota) sudah terus berkembang. Bisa dilihat dari arus informasinya yang beragam. Tidak lagi dikuasai penguasa yang memegang arus informasi arus utama. Meski harus sama, tetapi ini dianggap wajar untuk sebuah perubahan.

Begitu kira-kira saya memandang negeri ini pagi ini sambil mengayuh pedal sepeda. Saya masih ingat dulu, bagaimana susahnya mendapatkan informasi meski internet sudah dapat dinikmati sebagian kalangan. Termasuk event-event yang menolak datang dengan alasan pasar yang kurang potensial.

Bahkan, kantor-kantor perwakilan penguasa media nasional tidak banyak dan nyaris tak ada di negeri ini. Perih, sedih dan ini semacam tantangan sebelum dotsemarang benar-benar berdiri waktu itu. Jadi, dotsemarang waktu itu berdiri memiliki alasan khusus yang dituangkan dalam Visi misinya.

Visi adalah sebuah mimpi, harapan dan keinginan yang begitu tinggi. Sampai-sampai diharapkan untuk tidak dapat menjangkaunya. Alasannya sederhana, buat apa bermimpi jika mudah menggapainya. Selesai, bingung dan hilang arah.

Kini, seperti putaran roda sepeda ini, negeri yang saya banggain ini sudah semakin ramai. Hadirnya media sosial pun cukup berpengaruh besar. Media-media lokal turut bertumbuh menyajikan berbagai informasi sesuai takarannya masing-masing.

Begitu mudah menyantap informasi sekarang ini. Dan mau tak mau, penguasa media lain sepertinya mulai tertarik dengan negeri ini hingga beberapa kali terlihat terus berekspansi dengan berbagai cara. Hmm..

...

Saya sempat berpikir untuk berhenti bermimpi. Mimpi tentang negeri ini yang ingin lebih dikenal diseluruh penjuru dunia melalui internet.

Hadirnya berbagai media seperti mengatakan bahwa tujuan saya sudah selesai. Negeri ini tidak butuh lagi rasanya. Visi yang kadaluarsa yang mulai luntur mengikuti tren dan perkembangan zaman. Apakah ini berarti saya juga sudah selesai?

Salam blogger

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger