Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Andai Bioskop Semarang Punya Tempat Nongkrong?


Namanya juga berandai-andai, tidak salah kan? Saya berharap bioskop Semarang memiliki tempat ngopi sendiri atau tempat nongkrong. Sepertinya cuma disini saja yang belum punya bila melihat iklan sebelum film dimulai bagaimana fasilitas 21. Mungkin ketersediaan ruangan yang sudah kurang memadai.

Menonton yang merupakan aktivitas mingguan, terkadang membuat saya harus meluangkan waktu untuk pergi ke bioskop Semarang yang berada di Mall Ciputra. Hanya bioskop disini saja yang selalu menayangkan film-film Indonesia.

Setelah selesai menonton, saya selalu menulis dari apa yang saya tonton. Khususnya animo penonton sebuah film di Semarang. Karena animo tersebut, film-film yang beredar bisa kita prediksi kedepannya. Apakah bertahan atau hanya kurang sepekan untuk dilepas dari sini.

Masalah saya adalah saya butuh meja dan kursi untuk menulis dengan laptop kecil saya. Memang beberapa tempat nongkrong diluar bioskop memberikan fasilitas tersebut. Tapi terkadang banyak gangguan dan juga harganya buat manyun.

Saya hanya berharap ada tempat nongkrong yang bisa memesan secangkir kopi untuk membuat saya merasa nyaman menulis disana. Ruangan khusus yang membuat imajinasi saya tetap terkekang dikepala saya sebelum benar-benar hilang setelah keluar dari ruangan bioskop.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger