Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Berbicara Kebaikan, Belum Tentu Sikapnya Juga Baik


Ketika seseorang berbicara tentang kebaikan, pasti sifatnya juga sama baiknya. Pemahaman sederhana yang masuk pikiran saya itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Kadang berharap ia lebih baik untuk melihat dan membantu, namun kenyataan ia manusia biasa.

Hari ini, Selasa (7/5), sepertinya tubuh sudah kembali normal. Tidak menyangka sakit yang diderita di awal puasa meruntuhkan semangat yang ingin dibangun dengan momentum Ramadan.

Penderitaan yang baru kali ini dirasakan datang di hari Minggu, hari kedua. Penyakit itu datang lagi dengan sifatnya yang lebih ngeri. Membuat teh hangat saja butuh kekuatan dan hampir saja pingsan.

Pikiran sudah kehilangan kesadaran dengan kunang-kunang yang hingga dalam bayangan. Satu-satunya penyelemat adalah tempat tidur dan akhirnya dibiarkan terbantai.

Perasaan mual kembali datang. Padahal seseorang yang paling diandalkan peduli, malah tak datang-datang. Ya, ia berada dekat tapi terlalu bersikap defensif (bertahan). Memaksanya berbicara untuk peduli, hanya akan membawa malapetaka.

Orang yang mengajak kebaikan belum tentu baik

Saya tak bercerita bahwa semua orang sama. Satu orang saja yang saya kenal. Orang yang baik dari sisi penampilan dan sikap yang didambakan.

Orang yang selalu menganjurkan dan mengajak kebaikan. Nyatanya dia tidak lebih baik dari saya. Wajar bila bicara manusia tidak sempurna. Dan mungkin ini pelajaran buat saya saja.

Saya hanya terlalu berharap pada orang baik sekali lagi. Yang selalu bicara baik dengan ajakannya yang membuat kita mencintainya, menyanyanginya dan merindukannya.

Hanya saja saat diperlakukan layaknya manusia dalam suatu kondisi masalah, ia menampakkan diri dengan alasan beribu kata-kata.

Cuek, tidak mau disalahkan, pergi begitu saja, melawan, jarang minta maaf dan bahkan mengambil keputusan bodoh untuk sebuah alasan pribadi dari orang yang diajaknya menjadi baik.

Saya tidak tahu lagi, orang seperti apa lagi yang saya harus hadapi. Andai dia dari awal menunjukkan sikap buruk, mungkin saya mengerti. Tapi saya keliru. Dewa juga pernah berbuat salah (kalimat dalam film).

..

Mari melanjutkan hidup untuk terus belajar dan menerima apa adanya. Kesalahan adalah pengalaman dan pengalaman adalah guru terbaik untuk menjadi lebih baik.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini