Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Menjadi Kakak yang Baik



Menjadi kakak yang baik itu tidak mudah. Saya sendiri mengakui bahwa saya adalah kakak yang kurang bertanggung jawab kepada adik-adik saya. Tapi saya mengakui pria ini adalah kakak yang baik buat adik-adiknya.

Pria ini selalu memikirkan adik-adiknya. Mulai dari yang terkecil sampai yang besar. Buat saya, pria ini sangat menginspirasi terlepas dari kontroversi yang dilakukannya sehari-hari.

Saya mengikuti kehidupan pria ini dari jaman bangku SMP hingga sekarang. Sangat loyal dengan yang namanya pertemanan hingga sering kali pria ini dimanfaatkan teman-temannya. Termasuk saya sepertinya.

Menjadi kakak yang baik

Dulu, masih dengan tempramental tinggi atau lebih suka menggunakan emosi ketimbang logika, pria ini bisa marah dengan siapa saja. Termasuk adik-adiknya. Mudah menemukan ciri-ciri pria pendiam ini saat marah. Ia lebih suka mendiamkan sesuatu hingga logika berpikirknya kembali normal.

Itu dulu, sekarang, jangan ditanya. Banyak kebaikan yang saya lihat dan bahkan mau berkorban untuk kedua adiknya meski satu sisi dalam dirnya tidak menyukainya.

Faktor umur seakan menjadi pembeda dalam membangun karakter kedewasaannya. Meski harus memberi kesempatan buat adik perempuannya menikah lebih dulu, ia terus masih memberi penghormatan buat adik dan keluarga barunya.

...

Saya mengakui menjadi kakak itu tidak mudah. Mendengarkan kabar adik saya saja seperti dulu, butuh sebuah kepentingan atau keinginan layaknya hubungan pacaran.

Kini, saya belajar dari pria ini untuk menjadi kakak yang baik tidak perlu punya cerita seperti saya saat mengantar kedua adik saya saat sekolah dulu.

Saya berharap kelak, pria ini tidak akan berubah setelah menikah nanti. Memiliki adik itu menyenangkan saat dapat bertukar pakaian karena fisik yang kurang lebih sama. Kadang ada perasaan jengkel tapi juga ada perasaan bahagia.

Salam Causeway!

Artikel terkait :

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini