Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bahkan, Klub-klub Liga Inggris Memantau Pemain yang Diburunya Lewat Media Sosial


Masih bilang media sosial nggak penting? Penting di sini mungkin tentang apa yang kita sebarkan, kalau positif dan menginspirasi sih, nggak masalah. Tapi kalau negatif mulu, sepertinya perlu dipertimbangkan.

Kali ini ceritanya datang dari klub Liga Inggris yang akan berbelanja pemain buat musim depan. Jika dulu saya sering mendengar cerita tentang perusahaan yang tidak ingin karyawannya nakal di medsos, maka anggapan itu pun juga dilakukan klub sepakbola.

Kasus Adam Johnson jadi pelajaran

Sudah banyak kejadian yang terjadi karena pemain sepakbola profesional kadang salah mempublish di media sosial, kasus terbaru tentu tentang Adam Jhonson.

Menyadur info dari situs viva.co.id (19/4), Adam Johnson kini harus mendekam di balik jeruji besi. Pemain Sunderland ini harus menjalani hukuman lima tahun penjara atas kasus pelecehan gadis di bawah umur.

Tidak ingin hal serupa berulang, kabarnya sejumlah klub Liga Primer kini menerapkan aturan 'scouting' terhadap kepribadian pemain incaran. Caranya adalah melalui media sosial.

Kroll, perusahaan yang bergerak di bidang cyber security, mengaku disewa oleh sejumlah klub untuk mengawasi perilaku sejumlah pemain di media sosial, seperti Twitter, Facebook, Instagram, WhatsApp hingga Snapchat.

"Kami ditugaskan menemukan tanda-tanda mencurigakan. Apa saja yang mungkin bisa merusak reputasi klub, seperti hal-hal mesum, ajaran ekstrem sampai yang menjurus ke arah rasis serta SARA," kata Direktur Kroll, Ben Hamilton kepada The Sun.

...

Media sosial buat profesional bukan sekedar tempat bercanda, mereka memang layaknya selebriti yang selalu diawasi fansnya. Bagaimana dengan saya dan Anda yang bukan termasuk pemain sepakbola profesional, selebriti atau tokoh.

Tetap saya saranin jaga jari Anda untuk tidak berbagi hal negatif yang diberikan pikiran Anda. Karena, jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Negara kita sekarang pun sudah memberlakukan peraturan tentang media sosial terutama konten yang merusak.

Boleh menyuarakan kebebasan berpendapat, asal tidak merugikan terikat instansi manapun atau tempat Anda bekerja. Atau harus membuat akun palsu? Hehe...

Sumber konten asli klik di sini

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet

📌 Sekali Seumur Hidup: Menjaga Asa Menikah di Usia 40 Tahun